Tuesday, 16 April 2024

Catatan Perjalanan 14-15 April 2024

Perjalanan kali ini tidak direncanakan dari jauh-jauh hari, terbilang dadakan, tapi juga tidak dadakan. Semua terjadi saat mulai terpikirkan bahwa sudah hampir 8 bulan sejak calon keluarga baru ini setengah muncul di dunia ini. Saat ditawarkan untuk bepergian, tentu sangat senang sekali dia. Hanya saja, memikirkan waktu libur yang sangat sedikit, entah kenapa setiap tahun waktu libur lebaran semakin berkurang, kami pun memutuskan untuk bepergian dua hari 1 malam, ke kota terdekat, Bandung.

Bandung menjadi pilihan bukan untuk menjawab pertanyaan di video Kenapa Bandung? yang serupa dengan gayanya Bayem Sore, tapi memang karena dia ingin mencoba kereta cepat, yang juga cepat menghabiskan uang. Setelah dia menentukan beberapa list tempat, tentu tidak akan dikunjungi semua, akan ditentukan situasional saat di perjalanan, kami coba booking kereta, dan masih dapat. Tentu sepertinya karena kami berangkat saat arus balik, ini situasi sekitar h-7 keberangkatan.

Saat melihat semua tempat yang ingin dikunjungi, saya tercengang karena perjalanan kali ini isinya sepertinya akan hanya makan-makan. Ya maklum, keinginan makan selama 8 bulan ini cukup meningkat dibanding sebelum-sebelumnya. Sebelumnya sudah banyak, jadi semakin banyak, semakin besar semakin banyak banyak lagi, semoga tidak terjadi GTM (Gerakan Tutup Mulut) saat lahir, doakan sehat selalu ya kawan-kawan. Doa yang sama juga teriring untuk kalian.

Kami berangkat pada 14 April 2024, dengan kereta Papandayan yang berangkat dari Stasiun Bekasi pada pukul 06.57 WIB. Saat berangkat kami tidak naik kereta cepat, karena, ya sudah tentu karena mahal. Satu tiket seharga 300.000, bandingkan dengan KAJJ Papandayan yang tiketnya seharga 150.000, meskipun waktu bisa berbeda 60-75 menit.

Tentu saja berangkat pagi dari Jatibening, susah sekali untuk dapat gocar ataupun grabcar. Hingga akhirnya kami harus memesan Taxi, yang tentu saja juga terbilang mahal bagi kami kaum pas-pasan. Hanya saja daripada tidak jadi berangkat, ya lebih baik berkorban, toh tidak lebih mahal dari kereta cepat juga. Sudah lama tidak naik taxi atau taksi?, lupa rasanya. Dalam perjalanan berpikir, kok bisa dengan speed dan jalanan yang tidak rata seperti ini, guncangannya tidak terasa ya? Sepertinya memang Allah ingin menyelamatkan istriku dari guncangan guncangan jalanan yang katanya mirip kontraksi. Ya memang ada harga ada rupa ya, beda 20 ribu dengan Go Car atau Grab Car.

Sesampainya di Stasiun Bekasi, ternyata kepagian, sampai pukul 06.05, kami memutuskan ke Indomaret terlebih dahulu untuk membeli air mineral, karena botol minum kami murah semua jadi rentan tumpah. Tidak lupa juga untuk membeli gorengan yang rasanya konsisten dari tahun ke tahun, hanya saja Tahunya belum matang, jadi hanya membeli Bakwan dan Tempe. Lokasinya ada di pintu masuk pejalan kaki dari arah Jalan Perjuangan, di samping gorengan risol yang menggunakan tepung panir atau roti ya itu. Rasanya enak beud, bala-balanya tidak terlalu banyak tepung, garing, dan komposisi bumbunya pas, tempenya tidak terlalu garing, tepungnya melekat dan empuk, saat dimakan pun tidak bau tempe, salah satu gorengan terbaik yang ada di Kota Bekasi. Harganya jadi 5.000 dapat 3, semakin lama semakin mahal ya.

Sayang sekali eskalatornya dan liftnya mati, jadi harus naik tangga, ya itung itung olahraga buat ibu hamil. Saat sampai di lantai 2, wah rame juga yang berangkat di arus balik, ada keluarga, suami istri, sampai mahasiswa yang berangkat di arus balik. Banyak juga kesedihan yang muncul di batas pengantar, katanya air mata yang paling tulus itu ada di terminal, stasiun, dan bandara, apa benar? 

Kereta kami pun tiba tepat waktu dan kami dapat kursi yang menghadap ke depan. Dalam beberapa perjalanan, rasanya hanya sekali saya dapat kursi yang mundur, tanpa teori teori tertentu, murni keberuntungan kayaknya. Di perjalanan, kami coba pesan makan menggunakan aplikasi, tapi tidak bisa. Lantas, saya coba beranjak ke Kereta Makan, memesan Ciomy yang tentu selalu jadi teman perjalanan di kereta jika tersedia. Hanya saja karena lupa tidak lama naik kereta dan tidak ada di semua kereta, saya lupa terakhir pesan rasa apa. Saya putuskan pilih rasa Keju, pesan satu saja buat berdua, harganya 30.000 ya. 

Informasi dari petugas kereta memang aplikasinya belum tersedia untuk semua kereta, di KA Papandayan belum bisa menggunakan aplikasi, katanya sih seperti itu. Saya kembali ke kursi dan menyantap Ciomy bersama, tapi kok tidak asin? Apa salah rasa ya saya, atau memang lupa dimasukkan bumbu, entahlah kalau ini saya tidak terlalu paham, karena mubazir 30.000 ya kami habiskan, tapi untungnya pedasnya segar sehingga membuat kami jadi melek. Rasanya enak, karena makanan tidak ada yang tidak enak ya, perjuangan membuatnya pasti susah, deskripsi rasa lebih ke dominan keju yang creamy tidak gurih, dan pedas segar.

Kami tiba di Stasiun Bandung 10 menit lebih lambat dari waktu tiba yang seharusnya, langsung menuju tempat bertemu dengan Neng Rental tempat kami sewa motor. Neng Rental ini harganya sangat murah, hanya 180.000 untuk 2 hari di libur lebaran, kalau sewa motor yang lain bisa sampai 300.000-340.000, sangat berbeda jauh padahal hanya untuk motor Beat. Harga segitu di Yogya untuk sewa motor bisa 3-4 hari. Harga sewa motor di Bandung ini memang terbilang lebih mahal dari Yogya, mungkin karena demandnya sedikit, mencari Neng Rental seperti menemukan permata, tapi mencarinya harus benar-benar eksplorasi di media sosial. 

Saat di kereta, kami memutuskan destinasi pertama adalah BBQ Mountain Boys Burger, karena memang perut sudah cukup lapar, sarapan dengan telor dadar terakhir pukul 05.00. Ternyata dekat dengan stasiun, tidak sampai 10 menit, langsung tiba di BBQ Mountain Boys Burger, lokasinya ada di Paskal Hyper Square. Kami memesan 2 classic burger dan 1 cheese fries. Banyak sih pilihan menu yang lain, tapi saya ingin pesan yang paling sederhana, bukan karena paling murah, tapi kualitas rasanya bisa terlihat dari menu yang paling sederhana. Oh iya, pembayaran tidak bisa menggunakan uang tunai ya. Seingat saya juga tidak ada Gofood dan Grab Food, kalau mau takeaway harus Whatsapp, koreksi jika salah.


Saat sampai, tampilannya menurut saya sangat menggiurkan, mulai dari penampakan hasil goreng kentang, saus keju, serta daging dalam burger yang tebal. Saat saya melakukan gigitan pertama pada kentang yang dilumuri saus kejunya, saya langsung memvonis ini kentang goreng dengan saus keju terenak yang pernah saya makan. Rasanya otentik, kentang yang garing sudah dibumbui ditambah saus keju yang cair, terasa keju namun gurih yang tidak bikin enek, sangat menyatu ketika masuk ke mulut. Ekspetasi saya terhadap burger jadi semakin tinggi, karena kentang yang sempurna ini, hampir tidak ada catatan.

Tibalah waktunya menggigit sepotong burger, yang dilengkapi dengan daging, saus, dan acar, tentu benar 'classic', saat gigitan pertama, rasanya bikin nagih, terlebih acarnya tidak terlalu asam sangat balance dengan saus dan dagingnya. Hal yang menarik dari burger ini adalah acar, rotinya yang sangat lembut, seperti tidak memakan roti burger, sangat lembut dan sopan. Dagingnya enak, tebal, segar, mengenyangkan, hanya saja menurut saya kurang minyak/saos, sehingga agak kering. Ya sekali lagi ini selera, kalau suka yang agak kering mungkin akan cocok dengan menu classic burger ini. Saya akan balik lagi kesini mencoba menu lain jika memang dapat kesempatan ke Bandung lagi. Menurut saya lebih enak dibanding blenger, flip, big mac, bangor, burger king. Tidak bisa dibandingkan dengan Lawless dan Five Monkeys karena belum coba.

Untuk harga pun terbayarkan dengan rasanya yang istimewa, untuk total tiga makanan tersebut habis sebesar 137.500 sudah termasuk pajak, dengan harga Burger Classic 45.000, Cheese Fries 35.000.

Perjalanan pun berlanjut ke Sweet Cantina, untuk dessert katanya, tapi kami memutuskan ke Sweet Cantina yang ada di Progo, karena di Braga takut susah dapat parkir, pasti akan sangat ramai. Perjalanan di Bandung pagi hari pun terbilang sepi, entah kenapa, saya berpikir kemacetan kayaknya menumpuk di beberapa titik saja. Sesampainya di Sweet Cantina Progo, ternyata juga ramai. Tempatnya bersamaan dengan Bakmie Tjo Kin dan Es Kopi Djawa. Kami memesan 1 Es Krim Marie Regal, 1 Cookies Triple Chocolate, dan 1 Es Kopi Djawa. Saya tidak pesan Bakmi Tjo Kin karena memang tidak tertarik untuk mencobanya, kayaknya akan masih lebih enak Bakmi Golek ataupun Mie Ayam Bangka Ananda.


Sweet Cantina ini es krimnya dominan rasa susu, yang menurut saya enak karena tidak terlalu manis, biasanya yang berbau Marie Regal rasanya akan sangat manis, tapi ini balance dan tidak enek untuk dihabiskan. Hanya saja tidak ada yang istimewa dari es krim ini, entah rasa yang lain ya saya tidak tahu. Cookiesnya pun terbilang enak, soft cookies yang memang lembut, manisnya pas, mengenyangkan, tekstur yang terdapat white chocolatenya sangat enak, menjadi penambah kenikmatan. Hanya saja kalau ditanya apakah saya pribadi akan kembali lagi untuk pesan menu lain, tentu jawabannya tidak.

Sweet Cantina ini memiliki harga standar es krim es krim cafe di Bandung, Cone Ice Cream (Marie) seharga 22.000, dan Triple Chocolate Cookies seharga 24.000, ya saya rasa masih ok dengan harga segitu.

Es Kopi Toko Djawa ini juga sudah cukup terkenal di Bandung sebelum banyaknya es kopi yang bermekaran dimana-mana, mungkin dari sekitar 2017 atau 2018 yah, cabangnya juga ada di Jakarta. Dominan rasa kopi, enaknya bisa dikategorikan di puncak tertinggi bersama Tuku, yang benar-benar terasa kopinya, lebih enak dari Tomoro dan Calf. Cocok sekali jika memang ingin benar-benar menikmati Es Kopi. Kalau ditanya apakah saya akan balik lagi, jika lewat dan kebetulan butuh Es Kopi saya akan mampir kembali. Terlebih harganya hanya 20.000. Sebenarnya yang lumayan terkenal Es Kopi Awan, tapi mau coba yang biasa untuk menemukan kenikmatan yang sebenarnya.

Selepas ini sebenarnya paling enak makan siang, tapi waktu masih 11.30, perut juga belum terlalu lapar, kami putuskan untuk ke Jalan Kemuning terlebih dahulu, tentu beli Prima Rasa sebagai oleh-oleh. Iya, hari pertama kami beli oleh-oleh, hari kedua mau fokus di hotel saja. Istri sudah menargetkan ingin membeli Bolen, dan saya ingin membeli Almond Crispy. Tiba di sana, wah ternyata sangat ramai sekali. Puncak arus balik sih ya, semuanya mampir dulu beli oleh-oleh. Kami tidak membeli Brownies Panggang karena sudah bosan, meskipun tetap sangat enak sih, Brownies Panggang terbaik yang pernah saya cicipi.

Sesampainya di dalam, Bolen ternyata diproduksi pukul 13.00, tentu kami pikir ulang, alhasil kami hanya beli 2 Almond Crispy Green Tea, 1 Almond Crispy Original, dan 1 Begelen Keju. Saya sebenarnya lebih suka Begelen Manis, tapi tidak ada yang kecil dengan total harga 230.000, saya lupa rinciannya karena struknya ilang, kayaknya Almond Crispy 55.000, Begelen Keju 65.000. Kami putuskan beli Bolen di Kartika Sari saja esok hari dekat stasiun. Selepas dari Prima Rasa, mampir dulu ke Bakso Goreng Pandu dekat sana, tadinya mau beli Siomay Bakso Tahu Tulen, tapi kok ramai sekali. Harganya 1 buah 9.000 saja ramainya kebangetan, apalagi murah ya, tapi memang enak sih, siomay terbaik yang pernah saya makan.

Terakhir saya makan di Bakso Goreng Pandu itu tahun 2021, waktu beli ternyata enak, saya lebih suka ini dibanding Bakso Goreng Anugrah. Harganya 25.000 dapat 6 buah, tapi dia yang ukuran sedang bukan besar. Bakso Gorengnya crispy, rasa ikannya lebih dominan dibanding tepung, dan sausnya sangat gurih melengkapi keringnya Bakso Goreng, sehingga sangat enak jika pakai saos, tentu saya akan balik lagi jika mampir ke Kemuning.

Waktu sudah memasuki zuhur, saya mengusulkan pergi ke Masjid Pusdai, agar punya sesuatu yang dikenang. Kalau mau sekedar solat sih di Pom Bensin sebenarnya bisa yah, tapi namanya juga lagi jalan-jalan. Masjid Pusdai dan Salman menurut saya tempat yang enak buat solat di Kota Bandung. Di perjalanan, kami ketemu store Ina Cookies, coba mampir dan tester, ternyata Almond Cookies dan Nastar Milkynya sangat enak, sayang stoknya sedang habis. Almond Cookiesnya penuh rasa Almond, tapi tidak bikin seret, lebih ke dominan gurih, Nastar Milkynya lembut seperti awan tapi tidak mengurangi rasa nanasnya, menurut saya dua kue ini lebih enak dari Kastangel dan Nastar Kejunya. Oleh sebab kehabisan, kami hanya beli Putri Almond Green Tea saja yang besar harga 110.000 dan yang kecil harga 60.000, semoga rasanya enak, sampai sekarang belum saya coba karena untuk oleh-oleh.

Sesampainya di Masjid Pusdai, ternyata hujan, jangan lupa untuk menitipkan sepatu ya, helm juga boleh dititipkan, solat disini sangat sejuk meski tidak menggunakan AC, sampai-sampai mau tidur, tapi perjalanan harus dilanjutkan sebab belum makan siang. Hanya saja, kondisi sedang hujan, kami duduk dulu di teras masjid sambil menikmati Almond Crispy Green Teanya yang memang rencananya 1 untuk kami konsumsi, tentu sekalian menahan lapar. Saat pertama kali makan, wah, green teanya sangat dominan, benar-benar kuat di rasa dan aromanya, tidak hanya rasa. Rasa butternya sampai tertutup oleh Green Tea, bahkan kejunya juga. Untuk pecinta green tea sepertinya akan senang, tapi jika saya, saya mungkin akan coba rasa yang original untuk berikutnya.

Awalnya kami berencana makan di Warung Nasi Ibu Imas, tapi karena dari Pusdai jaraknya cukup jauh, kami coba mampir dulu ke Sate Jando di Gasibu, eng ing eng, ternyata belum buka, masih siap-siap. Yasudah gaskeun ke Warung Nasi Ibu Imas. Ternyata eh ternyata, macetnya dari Asia Afrika sampai Balonggede, parah sekali sepertinya semua berpikiran makan dulu di Bandung sebelum balik ke Jakarta. Motor sampai tidak bergerak. 

Sepanjang perjalanan, Warung Nasi Ibu Imas semuanya penuh, Ayam Goreng SPG saja penuh sekali antriannya sampai mengular panjang. Oh iya, Warung Nasi Ibu Imas cabangnya di sepanjang jalan ada empat, jadi jangan menumpuk di cabang pertama, cabangnya juga berdekatan kok sepanjang Jalan Balonggede. Di cabang yang paling ujung jalan, kami tidak dapat tempat, tapi setelah ke cabang sebelum terakhir, akhirnya kami dapat di lantai 2 itu juga harus cepat cepat menempati.

Awalnya kami pesan ayam bakar, gepuk, perkedel kentang, sayur asam, tempe bacem, dan es jeruk. Hanya saja perkedel kentang habis dan sayur asam habis, maka kami ganti dengan perkedel jagung, jukut goreng juga sudah habis ya makanya kami tidak pesan. Hal yang spesial dari warung nasi ibu imas katanya sih ayam bakar, sambel dadak, dan karedoknya. Sehubungan saya pecinta gepuk, maka pasti saya pesan gepuk. 

Butuh waktu sekitar 45-60 menit, saya lupa persisnya untuk makanan sampai ke meja, maklum lebaran, sangat ramai. Kalau tidak ramai, tidak terasa liburannya. Makanan akhirnya tiba, warnanya sangat menggoda.

Tentu akan kita coba yang spesialnya, sambal dadak dan karedok leunca. Saat akhirnya saya coba dulu gepuk tanpa sambal, wah, ini sih gepuk terenak yang pernah saya makan, Dagingnya tebal, empuk, gurih, tapi juga ada manisnya. Bagi yang tidak terlalu suka gepuk manis ini pasti cocok. Saya jamin akan kembali lagi untuk gepuknya kalau tidak ramai. Setelah ditambah dengan perkedel jagung, ini juga sangat enak, rasanya crispy, tidak amis, tepung tidak tebal, sehingga cocok untuk tambahan lauk. Kalau ayam bakar seperti ayam bakar di daerah sunda pada umunnya, tapi memang bumbunya meresap sampai dalam. Terlebih tempe bacem, ya tempe bacem.

Saatnya mencoba yang spesial, saat sambel dadak dicampur dengan gepuk dan nasi, wah benar kata orang, sambalnya pedas sekali, tapi menyegarkan. Kelebihannya disini sambalnya bisa refill, dan seperti sambal khas sunda, sangat lezat dan pasti bikin ketagihan. Hanya saja jika ditanya apakah sambalnya lebih enak dibanding warung sunda lainnya, tentu tidak, hanya saja karena disini bisa refill mungkin jadi kelebihan tersendiri. Hal yang cukup berbeda disini mungkin karedok leuncanya, enak, segar, gurih, dan cocok sekali untuk jadi cocolan atau dituang ke nasi. Kalau ditanya apakah saya akan balik lagi, tentu kembali dengan pesan gepuk serta perkedel jagung, dengan catatan tidak ramai sekali ya. Kalau ramai sekali sih tidak perlu, cari tempat lain saja. 

Harga makan di Warung Nasi Ibu Imas pun seperti di  resto sunda lainnya seperti Ampera, Ciganea, IHC, dsb, kami habis 106.700 termasuk pajak dengan rincian Es Jeruk 15.500, Nasi 7.000, Ayam Bakar 23.000, Gepuk 23.000, Perkedel Jagung 3.000, Tempe Bacem 3.000.

Setelah makan di Warung Nasi Ibu Imas, kami langsung segera ke hotel karena sudah lelah rasanya mau rebahan. Kami menginap di el Hotel jalan Merdeka karena memang katanya mau coba malam-malam di Braga. Sesampainya di el Hotel, wah lobbynya saja sudah megah dan bagus, apalagi kamarnya ya. Benar saat sampai kamar, sangat nyaman dan menurut saya sesuai dengan harganya, tidak ada catatan untuk complain.

Setelah maghrib kami coba untuk ke luar hotel untuk mampir ke Braga, tapi ternyata hujan, gerimis mendekati hujan ringan, tapi karena takut tidak reda dan tidak makan malam, kami putuskan menerobos hujan dengan berjalan kaki menggunakan jas hujan yang ada di motor. Harusnya kami rekam dengan backsound video Kita Bikin Romantis biar menggelikan, tapi karena waktu itu pikirannya cuma sampai Braga, sampai Braga, jadi tidak kepikiran, baru terpikir saat di Braga. Sesampainya di Braga Alhamdulillah reda, hanya 7 menit berjalan kaki sudah sampai dari hotel ke Braga. 

Setelah sampai Braga, langsung ke destinasi pertama yakni mampir ke Toko Tahi Lalats, kalau istri saya tidak ajak saya tidak tahu bahwa Tahi Lalats ada tokonya. Padahal, toko ini ternyata sudah ada dari Desember 2022. Begitu ketinggalan informasi saya ini.

Saat mampir ke tokonya, wah megah, bagus, dan sangat anak zaman sekarang banget. Kalaupun makanannya tidak enak, saya maafkan karena tempatnya bagus, ekspektasi saya tidak pernah tinggi terhadap makanan tempat estetik. 


Oh iya, disini juga tersedia Photo Booth dengan harga 50.000 dapat dua lembar ya, kenapa ya cafe di Bandung itu hampir semuanya sekarang ada Photo Booth? Bisnis yang menjanjikan seperitnya. Banyak juga yang mampir ke Photo Booth saja tanpa pesan makan, sepertinya sedang jadi tren Photo Booth ini. Kami pesan es krim coklat vanila dan soft milk bun,

Saat mulai makan keduanya, saya langsung berpikir, LHO KOK ENAK, maafkan telah meremehkan toko ini. Es krimnya menurut saya sama seperti Sweet Cantina, creamy, susu, tapi lebih manis, sehingga untuk sweet tooth sepertinya lebih pas, ditambah Soft Milk Bunnya, sangat sempurna, dingin, lembut, creamy, ga bikin enek, milk bun yang pertama kali saya coba, dan enak sekali. Hanya minusnya kemasannya susah dibuka, apa saya saja yang kesulitan ya. Harganya sih memang lumayan ya menurut saya dengan rasa es krim basic, tapi enak, dan roti, bisa habis sampai 64.900 dengan pajak. Rinciannya es krim sebesar 21.000, dan Soft Milk Bun 38.000.

Setelah dari sini kami kembali ke hotel dan cari tempat makan, waktu sudah menunjukkan pukul 20.30, niat awalnya mau ke sate asin, coba ke Sate Asin Acong, ternyata tempatnya ramai dan sulit untuk makan di tempat, ke Sate Asin DJ tapi tutup, yasudahlah akhirnnya mutar-mutar kembali ke Sate Asin Gor Saparua, sebenarnya sih udah pernah coba, mau cari pembanding selain Gor Saparuan dan DJ,  malah saya berharap ada sate asin di Jakarta.


Hal yang mencengangkan disini adalah karena ramai ya, chemistry antar pedagang sate asin ini kuat sekali, mereka bertiga, tanpa mengobrol, yang satu bakar terus, yang satu bumbuin terus, yang satu bungkus dan cuci terus, tapi melakukan job descnya dengan baik dan harmonis. Kami pesan 10 sate manis dan 10 sate asin, saya rasa sate manisnya mirip dengan sate madura tapi versi lebih ringan, ya sama-sama bumbu kacang. Untuk sate asinnya, dibakar sampai kering jadi seperti di goreng, sehingga ada crispy crispy gurih yang bikin nafsu makan meningkat. Kayanya saya ga sampai dua menit sudah habis nasinya, karena memang enak sekali. Apalagi harganya murah, 10 Sate Ayam Asin, 10 Sate Ayam Manis, 2 Nasi, harganya hanya 40.000. Tentu saya akan coba sate asin lain kalau ke Bandung, bukan karena Gor Saparua tidak enak, tapi untuk memperkaya rasa.

Selepas dari Gor Saparua kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Seusai istirahat, kami bergegas sarapan pukul 07.00 karena memang dihimbau untuk datang sesuai kloter saja agar tidak terlalu ramai karena hotel sedang penuh, sebenarnya bisa saja makan di luar kloter yang sudah direkomendasikan, tapi takutnya penuh malah tidak nyaman, jamnya meski menggunakan kloter juga tidak dibatasi kok. Di el hotel ini sarapannya tersedia teh, kopi, martabak telur, omelet, scrambble egg, telor ceplok, bandros, bubur kacang hijau, ketan hitam, roti panggang, roti, kue, kue tradisional, sereal, bubur ayam, sop daging, dengan buffet nasi putih, nasi goreng, ayam kukus banyuwangi, mie goreng, bacem jeroan (paru, tambusu, babat).

Saya tidak pernah bisa menikmati buffet nasi dan lauknya selama di hotel, mungkin terbiasa dengan micin ya, ditambah di hotel rasanya itu dibuat untuk dinikmati semua kalangan, jadi tidak bisa dibuat rasa yang kuat. Hanya saja, untuk bubur ayam, bandros, dan sop dagingnya, sangat enakkkk, mengalahkan menu yang lain, menu sisanya sih tergolong enak saja, dapat dinikmati dengan baik. Tempatnya juga bagus untuk sarapan, cocok untuk foto foto.



Selepas sarapan, kami langsung ke kolam renang, pas sampai ke kolam renang, wah ini sih hotel cocok banget untuk keluarga. Kolam renang luas, ada yang 70, 105, 180 cm, dan untuk keramaian kemarin masih terdapat spot untuk berenang. Jadi sepertinya memang sangat tourism-hotel khususnya untuk keluarga.


Sampai siang kami menghabiskan waktu di hotel saja, karena berenang tidak terasa tiba-tiba sudah 90 menit, padahal hanya berendam saja. 11.30 kami pun checkout dan bergegas ke pom bensin untuk mengganti bensin kembali ke kondisi awal serta janjian memberikan motor di Kartika Sari Pusat dekat stasiun. Saat sampai di Kartika Sari, ramai juga, tapi tidak seramai Prima Rasa karena memang lebih luas, kami membeli 2 Bolen, 1 Almond Cookies, dan 1 Sale Pisang dengan total 223.500. Bolen Kartika Sari dapat diambil langsung di kasir dengan harga Bolen Keju 65.000, Bolen Coklat 67.500, Almond Cookies 76.000, dan Sale Pisang 25.000. Kami hanya mencoba bolen saja karena sisanya untuk oleh-oleh, untuk Bolen saya jujur masih tidak bisa terlalu membedakan rasa Bolen, karena menurut saya hampir mirip dengan Bolen di Global Bakery. Hanya saja, pisangnya lebih manis dan tepungnya lebih lembut untuk yang di Kartika Sari, tapi tidak jauh rasanya dengan Global Bakery yang bertebaran dimana-mana di Bekasi.

Selepas dari Kartika Sari kami mampir ke Mie Kocok Pak Enco, biar istri sekalian coba Mie Kocok dan tentu dekat dengan stasiun. Oh iya, dekat situ juga ada Mie Kocok Kebon Kawung, tempatnya lebih luas, kalau Pak Enco ini persis depan Kartika Sari yang hanya di gerobak saja. Mendung mendung di Bandung memang paling enak makan Mie Kocok. Rasanya yang gurih kaldu tentu bikin segar dan tetap terjaga di siang hari.


Tentu jika dibandingkan dengan Mie Kocok lain yang pernah dicoba, menurut saya ini salah satu yang paling enak. Rasa gurih kaldu ditambah dengan mie khas mie kocok, dan kikilnya yang lembut, bahkan istri saya yang tidak terlalu suka kikil juga doyan sampai habis karena memang rasanya selezat itu. Kalau ditanya dengan harga 30.000 apakah saya akan kembali lagi kesini tentu jelas, jika lewat saya akan mampir. Tidak lupa juga minum Es Jeruk di sebelah Mie Kocok Pak Enco ini, ada Es Alpukat dan Es Campur juga sih tapi tidak coba, salah satu Es Jeruk terbaik yang pernah saya coba, kalau ada di sini pasti akan sering beli, sangat terbayar harga 15.000 untuk 1 Es Jeruk dengan rasa seperti itu.

Setelah selesai makan Mie Kocok dan menukar motor, kami pun jalan kaki ke stasiun dan sekalian membeli 1 Klappertaart Basah di Den Haag Klappertaart untuk dinikmati di kereta. Sebenarnya kereta cepat kami berangkat 13.48, direkomendasikan untuk naik feeder pukul 13.13. Namun, karena istri tidak bisa jalan cepat, dan belum pernah naik kereta cepat sehingga tidak tau alurnya, kami putuskan untuk naik kereta feeder 12.42 WIB agar santai dan tidak terlambat. Ternyata saat di ruang tunggu, langsung dipanggil untuk kereta bisnis dan ibu hamil serta prioritas lainnya. Awalnya istri tidak mau, tapi setelah ditekankan biar tidak terlalu berdempet saat jalan ke kereta akhirnya mau juga.

Kami pun duduk di feeder yang business class karena ibu hamil dapat prioritas kursi feeder, terlihat di feeder yang reguler penuh sampai harus berdiri, beda cerita dengan di business class masih terdapat kursi yang kosong.
 

Sesampainya di Padalarang pukul 13.02 dengan perjalanan feeder whoosh 20 menit, kami duduk bersantai dulu sambil ibadah zuhur, musholanya luas, adem, dan enak. Tidak salah untuk memilih perjalanan feeder lebih cepat 1 kereta dibanding jadwal sebenarnya, sehingga tidak terburu-buru dan sempat bersantai.


Kami juga menikmati Klappertaart Basah di kereta api, yang menurut saya rasanya unik, gurih, tapi manis, mirip kue lumpur, saya pertama kali memakan Klappertaart. Jujur, saya akan coba lagi di toko lain sebagai pembanding dan untuk memperkaya rasa. Harganya 47.000.


Pukul 13.48 kami berangkat, pukul 14.17 sudah sampai di stasiun Halim, cepat sekali. Sayangnya saat berpindah ke LRT, LRT sedang gangguan yang arah Jatimulya sehingga kami menunggu lebih dari 10 menit untuk naik LRT ke stasiun Jatibening Baru sehingga sampai di LRT Jatibening Baru pada pukul 14.50. Kalau terintegrasi dengan mulus mungkin akan lebih menarik. Sesampainya di LRT Stasiun Jatibening Baru kami memesan Go Car dari 14.50 sampai 15.20 dan tidak dapat, hingga akhirnya pesan go ride untuk mengambil motor di kontrakan dan menjemput istri di Indomaret dekat stasiun LRT. 

Kalau membandingkan durasi, perjalanan berangkat saya menggunakan KAJJ dari kontrakan itu
05.40-06.05 di perjalanan menuju Stasiun Bekasi (25 Menit)
06.05-06.57 menunggu di Stasiun Bekasi (52 menit)
06.57-09.30 perjalanan ke Stasiun Bandung (153 menit)
Total perjalanan 230 menit, total harga 415.000 (Kereta, Taksi, Ciomy)

Perjalanan pulang dengan kereta cepat,
12.12-12.20 jalan kaki ke Stasiun Bandung (8 menit)
12.20-12.42 menunggu di Stasiun Bandung (22 menit)
12.42-13.02 perjalanan feeder ke Stasiun Padalarang (20 menit)
13.02-13.48 menunggu di Stasiun Padalarang (46 menit)
13.48-14.18 perjalanan ke Stasiun Halim (30 menit)
14.18-14.41 menunggu di stasiun LRT Halim karena trouble (23 menit)
14.41-14.50 perjalanan LRT ke stasiun LRT Jatibening Baru (9 menit)
14.50-15.20 menunggu Go Car (30 menit)
15.20-15.23 pulang ke kontrakan (3 menit)
15.23-15.30 sampai di kontrakan setelah ambil motor untuk jemput istri (7 menit)
Total perjalanan 198 menit, total harga 520.600 (Whoosh, LRT, Goride)

Ternyata hanya berbeda 32 menit saja jadinya, yang bikin lama untuk sampai rumah adalah waktu tunggu Go Car dan adanya gangguan di LRT. Jadi naik Whoosh worth it atau tidak?

Demikian catatan perjalanan saya dan istri pada 14-15 April 2024, tentu catatan ini sebagai arsip perjalanan hidup saya, semoga juga bisa memberikan manfaat untuk pembaca sekalian.

1 comment: