Tuesday, 25 November 2025

Catatan Hari Guru Nasional : Sebuah Refleksi

Pagi tadi saya termenung, saat mengikuti upacara sekaligus menjadi pengamat upacara dari kejauhan, bersamaan dengan ucapan selamat dari orangtua yang sedang menyiapkan sesuatu, 'Selamat Hari Guru Pak', kata mereka, yang membuat saya bertanya, sebenarnya, siapa yang diselamatkan? apa yang dirayakan? dan apa yang harus saya lakukan?

Sudah kita ketahui bahwa di dunia yang keras ini, merayakan sesuatu tentu sudah jadi budaya yang melekat di masyarakat kita. Selamat ulang tahun, selamat idul fitri, biskuit selamat, selamatkan badak jawa, dan berbagai macam selamat lainnya. Bukan saya tidak setuju, saya sih juga melakukan hal yang sama, mengucapkan selamat ke hal lainnya, namun pagi ini muncul pertanyaan, bagaimana saya harus memposisikan diri untuk tahun ini?

Berbagai pemikiran terlintas, berita baik, berita menyedihkan, semua terlintas di pikiran. Saat Hari Guru Nasional, pasti akan selalu ada guru yang diapresiasi oleh Kementerian. Hal ini menandakan bahwa pendidikan kita semakin baik, inovatif, dan berdampak entah dimanapun daerahnya. Hanya saja, dalam waktu yang sama, terdapat juga berita yang menyedihkan, gaji guru honorer negeri/swasta yang bahkan tidak menyentuh UMR, perlakuan tidak adil terhadap guru, kebijakan yang menyalahkan guru, guru yang dipaksa hebat meskipun kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi dengan baik, ataupun guru yang hanya dijadikan komoditas politik oleh kepentingan organisasi tertentu.

Dari berbagai perspektif yang muncul, pikiran saya berkecamuk, posisi apa yang harus saya ambil? Apakah ini hari bahagia, atau hari yang justru membuat kita harus merenung? Dari berbagai macam hal yang lewat, akhirnya saya sadar, saya bukan siapa-siapa, saya akhirnya hanya mengambil posisi untuk merefleksikan bahwa saya belum sampai ke sana. Saya cukup mengapresiasi terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidup saya, yang mungkin kadang saya lewatkan tapi sebenarnya punya dampak yang besar.

Terkadang, peran guru saat perayaan hari guru hanya menjadi ajang seremonial semata, bukan saya mengomentari kegiatan yang ada, hanya saja, saya jadi teringat bahwa, ketika saya mengingat tentang ajang seremonial terhadap guru ataupun seringnya wali kelas ini dilaksanakan, saya semakin mengingat bahwa ternyata yang berdampak lebih besar dalam hidup saya bukan wali kelas saya. Kegiatan seremonial yang saya lakukan dulu, ternyata hanya momen yang terjadi begitu saja tanpa ada kesan dan kenangan apapun di kepala saya. Sungguh murid yang kurang ajar (saya).

Justru, yang akhirnya membentuk saya adalah orang-orang yang mungkin (saya lupa) tidak pernah saya berikan hadiah seremonial, bahkan mungkin saya juga lupa mengucapkan terima kasih. Jika ditanya apa yang dipelajari sewaktu SD? SMP? SMK? Justru saya tidak terlalu mengingat apa yang guru saya sampaikan terkait budi pekerti ataupun ilmu, meskipun merekalah yang membuat saya tahu dari saya tidak tahu. Lucunya, saya tidak tahu bahwa saya dulu tidak tahu, tiba-tiba saya tahunya saya itu tahu, lho gimana maksudnya? Hal yang paling saya ingat justru kenangan sama teman-teman, dan ucapan Pak Salim (Guru SMK saya) yang bilang Polisi Air, Polisi Hutan, Polisi Laut, sama Roberto Carlos anaknya banyak karena nanem benih dimana-mana.

Saya jadi tersadar, apa saya terlalu kurang ajar tidak tahu terima kasih, karena yang saya ingat justru didikan-didikan setelah itu, atau memang karena otak saya memori jangka pendek? Soalnya yang saya ingat malah orangtua sebagai madrasah pertama, dosen-dosen saya, guru pembimbing saya waktu PKM, dan rekan kerja pertama di dunia profesional yang membimbing saya. Hanya saja, saya kan jadi mikir, sebenarnya bagaimana agar memiliki dampak positif kepada siswa sebagai guru di SMA? Tapi setelah saya pikir-pikir, berdampak itu merepotkan dan melelahkan, mending tetap seperti biasa, main Football Manager, ngejar series, baca one piece, dan tidur habis jumatan.

Tuesday, 16 April 2024

Catatan Perjalanan 14-15 April 2024

Perjalanan kali ini tidak direncanakan dari jauh-jauh hari, terbilang dadakan, tapi juga tidak dadakan. Semua terjadi saat mulai terpikirkan bahwa sudah hampir 8 bulan sejak calon keluarga baru ini setengah muncul di dunia ini. Saat ditawarkan untuk bepergian, tentu sangat senang sekali dia. Hanya saja, memikirkan waktu libur yang sangat sedikit, entah kenapa setiap tahun waktu libur lebaran semakin berkurang, kami pun memutuskan untuk bepergian dua hari 1 malam, ke kota terdekat, Bandung.

Bandung menjadi pilihan bukan untuk menjawab pertanyaan di video Kenapa Bandung? yang serupa dengan gayanya Bayem Sore, tapi memang karena dia ingin mencoba kereta cepat, yang juga cepat menghabiskan uang. Setelah dia menentukan beberapa list tempat, tentu tidak akan dikunjungi semua, akan ditentukan situasional saat di perjalanan, kami coba booking kereta, dan masih dapat. Tentu sepertinya karena kami berangkat saat arus balik, ini situasi sekitar h-7 keberangkatan.

Saat melihat semua tempat yang ingin dikunjungi, saya tercengang karena perjalanan kali ini isinya sepertinya akan hanya makan-makan. Ya maklum, keinginan makan selama 8 bulan ini cukup meningkat dibanding sebelum-sebelumnya. Sebelumnya sudah banyak, jadi semakin banyak, semakin besar semakin banyak banyak lagi, semoga tidak terjadi GTM (Gerakan Tutup Mulut) saat lahir, doakan sehat selalu ya kawan-kawan. Doa yang sama juga teriring untuk kalian.

Kami berangkat pada 14 April 2024, dengan kereta Papandayan yang berangkat dari Stasiun Bekasi pada pukul 06.57 WIB. Saat berangkat kami tidak naik kereta cepat, karena, ya sudah tentu karena mahal. Satu tiket seharga 300.000, bandingkan dengan KAJJ Papandayan yang tiketnya seharga 150.000, meskipun waktu bisa berbeda 60-75 menit.

Tentu saja berangkat pagi dari Jatibening, susah sekali untuk dapat gocar ataupun grabcar. Hingga akhirnya kami harus memesan Taxi, yang tentu saja juga terbilang mahal bagi kami kaum pas-pasan. Hanya saja daripada tidak jadi berangkat, ya lebih baik berkorban, toh tidak lebih mahal dari kereta cepat juga. Sudah lama tidak naik taxi atau taksi?, lupa rasanya. Dalam perjalanan berpikir, kok bisa dengan speed dan jalanan yang tidak rata seperti ini, guncangannya tidak terasa ya? Sepertinya memang Allah ingin menyelamatkan istriku dari guncangan guncangan jalanan yang katanya mirip kontraksi. Ya memang ada harga ada rupa ya, beda 20 ribu dengan Go Car atau Grab Car.

Sesampainya di Stasiun Bekasi, ternyata kepagian, sampai pukul 06.05, kami memutuskan ke Indomaret terlebih dahulu untuk membeli air mineral, karena botol minum kami murah semua jadi rentan tumpah. Tidak lupa juga untuk membeli gorengan yang rasanya konsisten dari tahun ke tahun, hanya saja Tahunya belum matang, jadi hanya membeli Bakwan dan Tempe. Lokasinya ada di pintu masuk pejalan kaki dari arah Jalan Perjuangan, di samping gorengan risol yang menggunakan tepung panir atau roti ya itu. Rasanya enak beud, bala-balanya tidak terlalu banyak tepung, garing, dan komposisi bumbunya pas, tempenya tidak terlalu garing, tepungnya melekat dan empuk, saat dimakan pun tidak bau tempe, salah satu gorengan terbaik yang ada di Kota Bekasi. Harganya jadi 5.000 dapat 3, semakin lama semakin mahal ya.

Sayang sekali eskalatornya dan liftnya mati, jadi harus naik tangga, ya itung itung olahraga buat ibu hamil. Saat sampai di lantai 2, wah rame juga yang berangkat di arus balik, ada keluarga, suami istri, sampai mahasiswa yang berangkat di arus balik. Banyak juga kesedihan yang muncul di batas pengantar, katanya air mata yang paling tulus itu ada di terminal, stasiun, dan bandara, apa benar? 

Kereta kami pun tiba tepat waktu dan kami dapat kursi yang menghadap ke depan. Dalam beberapa perjalanan, rasanya hanya sekali saya dapat kursi yang mundur, tanpa teori teori tertentu, murni keberuntungan kayaknya. Di perjalanan, kami coba pesan makan menggunakan aplikasi, tapi tidak bisa. Lantas, saya coba beranjak ke Kereta Makan, memesan Ciomy yang tentu selalu jadi teman perjalanan di kereta jika tersedia. Hanya saja karena lupa tidak lama naik kereta dan tidak ada di semua kereta, saya lupa terakhir pesan rasa apa. Saya putuskan pilih rasa Keju, pesan satu saja buat berdua, harganya 30.000 ya. 

Informasi dari petugas kereta memang aplikasinya belum tersedia untuk semua kereta, di KA Papandayan belum bisa menggunakan aplikasi, katanya sih seperti itu. Saya kembali ke kursi dan menyantap Ciomy bersama, tapi kok tidak asin? Apa salah rasa ya saya, atau memang lupa dimasukkan bumbu, entahlah kalau ini saya tidak terlalu paham, karena mubazir 30.000 ya kami habiskan, tapi untungnya pedasnya segar sehingga membuat kami jadi melek. Rasanya enak, karena makanan tidak ada yang tidak enak ya, perjuangan membuatnya pasti susah, deskripsi rasa lebih ke dominan keju yang creamy tidak gurih, dan pedas segar.

Kami tiba di Stasiun Bandung 10 menit lebih lambat dari waktu tiba yang seharusnya, langsung menuju tempat bertemu dengan Neng Rental tempat kami sewa motor. Neng Rental ini harganya sangat murah, hanya 180.000 untuk 2 hari di libur lebaran, kalau sewa motor yang lain bisa sampai 300.000-340.000, sangat berbeda jauh padahal hanya untuk motor Beat. Harga segitu di Yogya untuk sewa motor bisa 3-4 hari. Harga sewa motor di Bandung ini memang terbilang lebih mahal dari Yogya, mungkin karena demandnya sedikit, mencari Neng Rental seperti menemukan permata, tapi mencarinya harus benar-benar eksplorasi di media sosial. 

Saat di kereta, kami memutuskan destinasi pertama adalah BBQ Mountain Boys Burger, karena memang perut sudah cukup lapar, sarapan dengan telor dadar terakhir pukul 05.00. Ternyata dekat dengan stasiun, tidak sampai 10 menit, langsung tiba di BBQ Mountain Boys Burger, lokasinya ada di Paskal Hyper Square. Kami memesan 2 classic burger dan 1 cheese fries. Banyak sih pilihan menu yang lain, tapi saya ingin pesan yang paling sederhana, bukan karena paling murah, tapi kualitas rasanya bisa terlihat dari menu yang paling sederhana. Oh iya, pembayaran tidak bisa menggunakan uang tunai ya. Seingat saya juga tidak ada Gofood dan Grab Food, kalau mau takeaway harus Whatsapp, koreksi jika salah.


Saat sampai, tampilannya menurut saya sangat menggiurkan, mulai dari penampakan hasil goreng kentang, saus keju, serta daging dalam burger yang tebal. Saat saya melakukan gigitan pertama pada kentang yang dilumuri saus kejunya, saya langsung memvonis ini kentang goreng dengan saus keju terenak yang pernah saya makan. Rasanya otentik, kentang yang garing sudah dibumbui ditambah saus keju yang cair, terasa keju namun gurih yang tidak bikin enek, sangat menyatu ketika masuk ke mulut. Ekspetasi saya terhadap burger jadi semakin tinggi, karena kentang yang sempurna ini, hampir tidak ada catatan.

Tibalah waktunya menggigit sepotong burger, yang dilengkapi dengan daging, saus, dan acar, tentu benar 'classic', saat gigitan pertama, rasanya bikin nagih, terlebih acarnya tidak terlalu asam sangat balance dengan saus dan dagingnya. Hal yang menarik dari burger ini adalah acar, rotinya yang sangat lembut, seperti tidak memakan roti burger, sangat lembut dan sopan. Dagingnya enak, tebal, segar, mengenyangkan, hanya saja menurut saya kurang minyak/saos, sehingga agak kering. Ya sekali lagi ini selera, kalau suka yang agak kering mungkin akan cocok dengan menu classic burger ini. Saya akan balik lagi kesini mencoba menu lain jika memang dapat kesempatan ke Bandung lagi. Menurut saya lebih enak dibanding blenger, flip, big mac, bangor, burger king. Tidak bisa dibandingkan dengan Lawless dan Five Monkeys karena belum coba.

Untuk harga pun terbayarkan dengan rasanya yang istimewa, untuk total tiga makanan tersebut habis sebesar 137.500 sudah termasuk pajak, dengan harga Burger Classic 45.000, Cheese Fries 35.000.

Perjalanan pun berlanjut ke Sweet Cantina, untuk dessert katanya, tapi kami memutuskan ke Sweet Cantina yang ada di Progo, karena di Braga takut susah dapat parkir, pasti akan sangat ramai. Perjalanan di Bandung pagi hari pun terbilang sepi, entah kenapa, saya berpikir kemacetan kayaknya menumpuk di beberapa titik saja. Sesampainya di Sweet Cantina Progo, ternyata juga ramai. Tempatnya bersamaan dengan Bakmie Tjo Kin dan Es Kopi Djawa. Kami memesan 1 Es Krim Marie Regal, 1 Cookies Triple Chocolate, dan 1 Es Kopi Djawa. Saya tidak pesan Bakmi Tjo Kin karena memang tidak tertarik untuk mencobanya, kayaknya akan masih lebih enak Bakmi Golek ataupun Mie Ayam Bangka Ananda.


Sweet Cantina ini es krimnya dominan rasa susu, yang menurut saya enak karena tidak terlalu manis, biasanya yang berbau Marie Regal rasanya akan sangat manis, tapi ini balance dan tidak enek untuk dihabiskan. Hanya saja tidak ada yang istimewa dari es krim ini, entah rasa yang lain ya saya tidak tahu. Cookiesnya pun terbilang enak, soft cookies yang memang lembut, manisnya pas, mengenyangkan, tekstur yang terdapat white chocolatenya sangat enak, menjadi penambah kenikmatan. Hanya saja kalau ditanya apakah saya pribadi akan kembali lagi untuk pesan menu lain, tentu jawabannya tidak.

Sweet Cantina ini memiliki harga standar es krim es krim cafe di Bandung, Cone Ice Cream (Marie) seharga 22.000, dan Triple Chocolate Cookies seharga 24.000, ya saya rasa masih ok dengan harga segitu.

Es Kopi Toko Djawa ini juga sudah cukup terkenal di Bandung sebelum banyaknya es kopi yang bermekaran dimana-mana, mungkin dari sekitar 2017 atau 2018 yah, cabangnya juga ada di Jakarta. Dominan rasa kopi, enaknya bisa dikategorikan di puncak tertinggi bersama Tuku, yang benar-benar terasa kopinya, lebih enak dari Tomoro dan Calf. Cocok sekali jika memang ingin benar-benar menikmati Es Kopi. Kalau ditanya apakah saya akan balik lagi, jika lewat dan kebetulan butuh Es Kopi saya akan mampir kembali. Terlebih harganya hanya 20.000. Sebenarnya yang lumayan terkenal Es Kopi Awan, tapi mau coba yang biasa untuk menemukan kenikmatan yang sebenarnya.

Selepas ini sebenarnya paling enak makan siang, tapi waktu masih 11.30, perut juga belum terlalu lapar, kami putuskan untuk ke Jalan Kemuning terlebih dahulu, tentu beli Prima Rasa sebagai oleh-oleh. Iya, hari pertama kami beli oleh-oleh, hari kedua mau fokus di hotel saja. Istri sudah menargetkan ingin membeli Bolen, dan saya ingin membeli Almond Crispy. Tiba di sana, wah ternyata sangat ramai sekali. Puncak arus balik sih ya, semuanya mampir dulu beli oleh-oleh. Kami tidak membeli Brownies Panggang karena sudah bosan, meskipun tetap sangat enak sih, Brownies Panggang terbaik yang pernah saya cicipi.

Sesampainya di dalam, Bolen ternyata diproduksi pukul 13.00, tentu kami pikir ulang, alhasil kami hanya beli 2 Almond Crispy Green Tea, 1 Almond Crispy Original, dan 1 Begelen Keju. Saya sebenarnya lebih suka Begelen Manis, tapi tidak ada yang kecil dengan total harga 230.000, saya lupa rinciannya karena struknya ilang, kayaknya Almond Crispy 55.000, Begelen Keju 65.000. Kami putuskan beli Bolen di Kartika Sari saja esok hari dekat stasiun. Selepas dari Prima Rasa, mampir dulu ke Bakso Goreng Pandu dekat sana, tadinya mau beli Siomay Bakso Tahu Tulen, tapi kok ramai sekali. Harganya 1 buah 9.000 saja ramainya kebangetan, apalagi murah ya, tapi memang enak sih, siomay terbaik yang pernah saya makan.

Terakhir saya makan di Bakso Goreng Pandu itu tahun 2021, waktu beli ternyata enak, saya lebih suka ini dibanding Bakso Goreng Anugrah. Harganya 25.000 dapat 6 buah, tapi dia yang ukuran sedang bukan besar. Bakso Gorengnya crispy, rasa ikannya lebih dominan dibanding tepung, dan sausnya sangat gurih melengkapi keringnya Bakso Goreng, sehingga sangat enak jika pakai saos, tentu saya akan balik lagi jika mampir ke Kemuning.

Waktu sudah memasuki zuhur, saya mengusulkan pergi ke Masjid Pusdai, agar punya sesuatu yang dikenang. Kalau mau sekedar solat sih di Pom Bensin sebenarnya bisa yah, tapi namanya juga lagi jalan-jalan. Masjid Pusdai dan Salman menurut saya tempat yang enak buat solat di Kota Bandung. Di perjalanan, kami ketemu store Ina Cookies, coba mampir dan tester, ternyata Almond Cookies dan Nastar Milkynya sangat enak, sayang stoknya sedang habis. Almond Cookiesnya penuh rasa Almond, tapi tidak bikin seret, lebih ke dominan gurih, Nastar Milkynya lembut seperti awan tapi tidak mengurangi rasa nanasnya, menurut saya dua kue ini lebih enak dari Kastangel dan Nastar Kejunya. Oleh sebab kehabisan, kami hanya beli Putri Almond Green Tea saja yang besar harga 110.000 dan yang kecil harga 60.000, semoga rasanya enak, sampai sekarang belum saya coba karena untuk oleh-oleh.

Sesampainya di Masjid Pusdai, ternyata hujan, jangan lupa untuk menitipkan sepatu ya, helm juga boleh dititipkan, solat disini sangat sejuk meski tidak menggunakan AC, sampai-sampai mau tidur, tapi perjalanan harus dilanjutkan sebab belum makan siang. Hanya saja, kondisi sedang hujan, kami duduk dulu di teras masjid sambil menikmati Almond Crispy Green Teanya yang memang rencananya 1 untuk kami konsumsi, tentu sekalian menahan lapar. Saat pertama kali makan, wah, green teanya sangat dominan, benar-benar kuat di rasa dan aromanya, tidak hanya rasa. Rasa butternya sampai tertutup oleh Green Tea, bahkan kejunya juga. Untuk pecinta green tea sepertinya akan senang, tapi jika saya, saya mungkin akan coba rasa yang original untuk berikutnya.

Awalnya kami berencana makan di Warung Nasi Ibu Imas, tapi karena dari Pusdai jaraknya cukup jauh, kami coba mampir dulu ke Sate Jando di Gasibu, eng ing eng, ternyata belum buka, masih siap-siap. Yasudah gaskeun ke Warung Nasi Ibu Imas. Ternyata eh ternyata, macetnya dari Asia Afrika sampai Balonggede, parah sekali sepertinya semua berpikiran makan dulu di Bandung sebelum balik ke Jakarta. Motor sampai tidak bergerak. 

Sepanjang perjalanan, Warung Nasi Ibu Imas semuanya penuh, Ayam Goreng SPG saja penuh sekali antriannya sampai mengular panjang. Oh iya, Warung Nasi Ibu Imas cabangnya di sepanjang jalan ada empat, jadi jangan menumpuk di cabang pertama, cabangnya juga berdekatan kok sepanjang Jalan Balonggede. Di cabang yang paling ujung jalan, kami tidak dapat tempat, tapi setelah ke cabang sebelum terakhir, akhirnya kami dapat di lantai 2 itu juga harus cepat cepat menempati.

Awalnya kami pesan ayam bakar, gepuk, perkedel kentang, sayur asam, tempe bacem, dan es jeruk. Hanya saja perkedel kentang habis dan sayur asam habis, maka kami ganti dengan perkedel jagung, jukut goreng juga sudah habis ya makanya kami tidak pesan. Hal yang spesial dari warung nasi ibu imas katanya sih ayam bakar, sambel dadak, dan karedoknya. Sehubungan saya pecinta gepuk, maka pasti saya pesan gepuk. 

Butuh waktu sekitar 45-60 menit, saya lupa persisnya untuk makanan sampai ke meja, maklum lebaran, sangat ramai. Kalau tidak ramai, tidak terasa liburannya. Makanan akhirnya tiba, warnanya sangat menggoda.

Tentu akan kita coba yang spesialnya, sambal dadak dan karedok leunca. Saat akhirnya saya coba dulu gepuk tanpa sambal, wah, ini sih gepuk terenak yang pernah saya makan, Dagingnya tebal, empuk, gurih, tapi juga ada manisnya. Bagi yang tidak terlalu suka gepuk manis ini pasti cocok. Saya jamin akan kembali lagi untuk gepuknya kalau tidak ramai. Setelah ditambah dengan perkedel jagung, ini juga sangat enak, rasanya crispy, tidak amis, tepung tidak tebal, sehingga cocok untuk tambahan lauk. Kalau ayam bakar seperti ayam bakar di daerah sunda pada umunnya, tapi memang bumbunya meresap sampai dalam. Terlebih tempe bacem, ya tempe bacem.

Saatnya mencoba yang spesial, saat sambel dadak dicampur dengan gepuk dan nasi, wah benar kata orang, sambalnya pedas sekali, tapi menyegarkan. Kelebihannya disini sambalnya bisa refill, dan seperti sambal khas sunda, sangat lezat dan pasti bikin ketagihan. Hanya saja jika ditanya apakah sambalnya lebih enak dibanding warung sunda lainnya, tentu tidak, hanya saja karena disini bisa refill mungkin jadi kelebihan tersendiri. Hal yang cukup berbeda disini mungkin karedok leuncanya, enak, segar, gurih, dan cocok sekali untuk jadi cocolan atau dituang ke nasi. Kalau ditanya apakah saya akan balik lagi, tentu kembali dengan pesan gepuk serta perkedel jagung, dengan catatan tidak ramai sekali ya. Kalau ramai sekali sih tidak perlu, cari tempat lain saja. 

Harga makan di Warung Nasi Ibu Imas pun seperti di  resto sunda lainnya seperti Ampera, Ciganea, IHC, dsb, kami habis 106.700 termasuk pajak dengan rincian Es Jeruk 15.500, Nasi 7.000, Ayam Bakar 23.000, Gepuk 23.000, Perkedel Jagung 3.000, Tempe Bacem 3.000.

Setelah makan di Warung Nasi Ibu Imas, kami langsung segera ke hotel karena sudah lelah rasanya mau rebahan. Kami menginap di el Hotel jalan Merdeka karena memang katanya mau coba malam-malam di Braga. Sesampainya di el Hotel, wah lobbynya saja sudah megah dan bagus, apalagi kamarnya ya. Benar saat sampai kamar, sangat nyaman dan menurut saya sesuai dengan harganya, tidak ada catatan untuk complain.

Setelah maghrib kami coba untuk ke luar hotel untuk mampir ke Braga, tapi ternyata hujan, gerimis mendekati hujan ringan, tapi karena takut tidak reda dan tidak makan malam, kami putuskan menerobos hujan dengan berjalan kaki menggunakan jas hujan yang ada di motor. Harusnya kami rekam dengan backsound video Kita Bikin Romantis biar menggelikan, tapi karena waktu itu pikirannya cuma sampai Braga, sampai Braga, jadi tidak kepikiran, baru terpikir saat di Braga. Sesampainya di Braga Alhamdulillah reda, hanya 7 menit berjalan kaki sudah sampai dari hotel ke Braga. 

Setelah sampai Braga, langsung ke destinasi pertama yakni mampir ke Toko Tahi Lalats, kalau istri saya tidak ajak saya tidak tahu bahwa Tahi Lalats ada tokonya. Padahal, toko ini ternyata sudah ada dari Desember 2022. Begitu ketinggalan informasi saya ini.

Saat mampir ke tokonya, wah megah, bagus, dan sangat anak zaman sekarang banget. Kalaupun makanannya tidak enak, saya maafkan karena tempatnya bagus, ekspektasi saya tidak pernah tinggi terhadap makanan tempat estetik. 


Oh iya, disini juga tersedia Photo Booth dengan harga 50.000 dapat dua lembar ya, kenapa ya cafe di Bandung itu hampir semuanya sekarang ada Photo Booth? Bisnis yang menjanjikan seperitnya. Banyak juga yang mampir ke Photo Booth saja tanpa pesan makan, sepertinya sedang jadi tren Photo Booth ini. Kami pesan es krim coklat vanila dan soft milk bun,

Saat mulai makan keduanya, saya langsung berpikir, LHO KOK ENAK, maafkan telah meremehkan toko ini. Es krimnya menurut saya sama seperti Sweet Cantina, creamy, susu, tapi lebih manis, sehingga untuk sweet tooth sepertinya lebih pas, ditambah Soft Milk Bunnya, sangat sempurna, dingin, lembut, creamy, ga bikin enek, milk bun yang pertama kali saya coba, dan enak sekali. Hanya minusnya kemasannya susah dibuka, apa saya saja yang kesulitan ya. Harganya sih memang lumayan ya menurut saya dengan rasa es krim basic, tapi enak, dan roti, bisa habis sampai 64.900 dengan pajak. Rinciannya es krim sebesar 21.000, dan Soft Milk Bun 38.000.

Setelah dari sini kami kembali ke hotel dan cari tempat makan, waktu sudah menunjukkan pukul 20.30, niat awalnya mau ke sate asin, coba ke Sate Asin Acong, ternyata tempatnya ramai dan sulit untuk makan di tempat, ke Sate Asin DJ tapi tutup, yasudahlah akhirnnya mutar-mutar kembali ke Sate Asin Gor Saparua, sebenarnya sih udah pernah coba, mau cari pembanding selain Gor Saparuan dan DJ,  malah saya berharap ada sate asin di Jakarta.


Hal yang mencengangkan disini adalah karena ramai ya, chemistry antar pedagang sate asin ini kuat sekali, mereka bertiga, tanpa mengobrol, yang satu bakar terus, yang satu bumbuin terus, yang satu bungkus dan cuci terus, tapi melakukan job descnya dengan baik dan harmonis. Kami pesan 10 sate manis dan 10 sate asin, saya rasa sate manisnya mirip dengan sate madura tapi versi lebih ringan, ya sama-sama bumbu kacang. Untuk sate asinnya, dibakar sampai kering jadi seperti di goreng, sehingga ada crispy crispy gurih yang bikin nafsu makan meningkat. Kayanya saya ga sampai dua menit sudah habis nasinya, karena memang enak sekali. Apalagi harganya murah, 10 Sate Ayam Asin, 10 Sate Ayam Manis, 2 Nasi, harganya hanya 40.000. Tentu saya akan coba sate asin lain kalau ke Bandung, bukan karena Gor Saparua tidak enak, tapi untuk memperkaya rasa.

Selepas dari Gor Saparua kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Seusai istirahat, kami bergegas sarapan pukul 07.00 karena memang dihimbau untuk datang sesuai kloter saja agar tidak terlalu ramai karena hotel sedang penuh, sebenarnya bisa saja makan di luar kloter yang sudah direkomendasikan, tapi takutnya penuh malah tidak nyaman, jamnya meski menggunakan kloter juga tidak dibatasi kok. Di el hotel ini sarapannya tersedia teh, kopi, martabak telur, omelet, scrambble egg, telor ceplok, bandros, bubur kacang hijau, ketan hitam, roti panggang, roti, kue, kue tradisional, sereal, bubur ayam, sop daging, dengan buffet nasi putih, nasi goreng, ayam kukus banyuwangi, mie goreng, bacem jeroan (paru, tambusu, babat).

Saya tidak pernah bisa menikmati buffet nasi dan lauknya selama di hotel, mungkin terbiasa dengan micin ya, ditambah di hotel rasanya itu dibuat untuk dinikmati semua kalangan, jadi tidak bisa dibuat rasa yang kuat. Hanya saja, untuk bubur ayam, bandros, dan sop dagingnya, sangat enakkkk, mengalahkan menu yang lain, menu sisanya sih tergolong enak saja, dapat dinikmati dengan baik. Tempatnya juga bagus untuk sarapan, cocok untuk foto foto.



Selepas sarapan, kami langsung ke kolam renang, pas sampai ke kolam renang, wah ini sih hotel cocok banget untuk keluarga. Kolam renang luas, ada yang 70, 105, 180 cm, dan untuk keramaian kemarin masih terdapat spot untuk berenang. Jadi sepertinya memang sangat tourism-hotel khususnya untuk keluarga.


Sampai siang kami menghabiskan waktu di hotel saja, karena berenang tidak terasa tiba-tiba sudah 90 menit, padahal hanya berendam saja. 11.30 kami pun checkout dan bergegas ke pom bensin untuk mengganti bensin kembali ke kondisi awal serta janjian memberikan motor di Kartika Sari Pusat dekat stasiun. Saat sampai di Kartika Sari, ramai juga, tapi tidak seramai Prima Rasa karena memang lebih luas, kami membeli 2 Bolen, 1 Almond Cookies, dan 1 Sale Pisang dengan total 223.500. Bolen Kartika Sari dapat diambil langsung di kasir dengan harga Bolen Keju 65.000, Bolen Coklat 67.500, Almond Cookies 76.000, dan Sale Pisang 25.000. Kami hanya mencoba bolen saja karena sisanya untuk oleh-oleh, untuk Bolen saya jujur masih tidak bisa terlalu membedakan rasa Bolen, karena menurut saya hampir mirip dengan Bolen di Global Bakery. Hanya saja, pisangnya lebih manis dan tepungnya lebih lembut untuk yang di Kartika Sari, tapi tidak jauh rasanya dengan Global Bakery yang bertebaran dimana-mana di Bekasi.

Selepas dari Kartika Sari kami mampir ke Mie Kocok Pak Enco, biar istri sekalian coba Mie Kocok dan tentu dekat dengan stasiun. Oh iya, dekat situ juga ada Mie Kocok Kebon Kawung, tempatnya lebih luas, kalau Pak Enco ini persis depan Kartika Sari yang hanya di gerobak saja. Mendung mendung di Bandung memang paling enak makan Mie Kocok. Rasanya yang gurih kaldu tentu bikin segar dan tetap terjaga di siang hari.


Tentu jika dibandingkan dengan Mie Kocok lain yang pernah dicoba, menurut saya ini salah satu yang paling enak. Rasa gurih kaldu ditambah dengan mie khas mie kocok, dan kikilnya yang lembut, bahkan istri saya yang tidak terlalu suka kikil juga doyan sampai habis karena memang rasanya selezat itu. Kalau ditanya dengan harga 30.000 apakah saya akan kembali lagi kesini tentu jelas, jika lewat saya akan mampir. Tidak lupa juga minum Es Jeruk di sebelah Mie Kocok Pak Enco ini, ada Es Alpukat dan Es Campur juga sih tapi tidak coba, salah satu Es Jeruk terbaik yang pernah saya coba, kalau ada di sini pasti akan sering beli, sangat terbayar harga 15.000 untuk 1 Es Jeruk dengan rasa seperti itu.

Setelah selesai makan Mie Kocok dan menukar motor, kami pun jalan kaki ke stasiun dan sekalian membeli 1 Klappertaart Basah di Den Haag Klappertaart untuk dinikmati di kereta. Sebenarnya kereta cepat kami berangkat 13.48, direkomendasikan untuk naik feeder pukul 13.13. Namun, karena istri tidak bisa jalan cepat, dan belum pernah naik kereta cepat sehingga tidak tau alurnya, kami putuskan untuk naik kereta feeder 12.42 WIB agar santai dan tidak terlambat. Ternyata saat di ruang tunggu, langsung dipanggil untuk kereta bisnis dan ibu hamil serta prioritas lainnya. Awalnya istri tidak mau, tapi setelah ditekankan biar tidak terlalu berdempet saat jalan ke kereta akhirnya mau juga.

Kami pun duduk di feeder yang business class karena ibu hamil dapat prioritas kursi feeder, terlihat di feeder yang reguler penuh sampai harus berdiri, beda cerita dengan di business class masih terdapat kursi yang kosong.
 

Sesampainya di Padalarang pukul 13.02 dengan perjalanan feeder whoosh 20 menit, kami duduk bersantai dulu sambil ibadah zuhur, musholanya luas, adem, dan enak. Tidak salah untuk memilih perjalanan feeder lebih cepat 1 kereta dibanding jadwal sebenarnya, sehingga tidak terburu-buru dan sempat bersantai.


Kami juga menikmati Klappertaart Basah di kereta api, yang menurut saya rasanya unik, gurih, tapi manis, mirip kue lumpur, saya pertama kali memakan Klappertaart. Jujur, saya akan coba lagi di toko lain sebagai pembanding dan untuk memperkaya rasa. Harganya 47.000.


Pukul 13.48 kami berangkat, pukul 14.17 sudah sampai di stasiun Halim, cepat sekali. Sayangnya saat berpindah ke LRT, LRT sedang gangguan yang arah Jatimulya sehingga kami menunggu lebih dari 10 menit untuk naik LRT ke stasiun Jatibening Baru sehingga sampai di LRT Jatibening Baru pada pukul 14.50. Kalau terintegrasi dengan mulus mungkin akan lebih menarik. Sesampainya di LRT Stasiun Jatibening Baru kami memesan Go Car dari 14.50 sampai 15.20 dan tidak dapat, hingga akhirnya pesan go ride untuk mengambil motor di kontrakan dan menjemput istri di Indomaret dekat stasiun LRT. 

Kalau membandingkan durasi, perjalanan berangkat saya menggunakan KAJJ dari kontrakan itu
05.40-06.05 di perjalanan menuju Stasiun Bekasi (25 Menit)
06.05-06.57 menunggu di Stasiun Bekasi (52 menit)
06.57-09.30 perjalanan ke Stasiun Bandung (153 menit)
Total perjalanan 230 menit, total harga 415.000 (Kereta, Taksi, Ciomy)

Perjalanan pulang dengan kereta cepat,
12.12-12.20 jalan kaki ke Stasiun Bandung (8 menit)
12.20-12.42 menunggu di Stasiun Bandung (22 menit)
12.42-13.02 perjalanan feeder ke Stasiun Padalarang (20 menit)
13.02-13.48 menunggu di Stasiun Padalarang (46 menit)
13.48-14.18 perjalanan ke Stasiun Halim (30 menit)
14.18-14.41 menunggu di stasiun LRT Halim karena trouble (23 menit)
14.41-14.50 perjalanan LRT ke stasiun LRT Jatibening Baru (9 menit)
14.50-15.20 menunggu Go Car (30 menit)
15.20-15.23 pulang ke kontrakan (3 menit)
15.23-15.30 sampai di kontrakan setelah ambil motor untuk jemput istri (7 menit)
Total perjalanan 198 menit, total harga 520.600 (Whoosh, LRT, Goride)

Ternyata hanya berbeda 32 menit saja jadinya, yang bikin lama untuk sampai rumah adalah waktu tunggu Go Car dan adanya gangguan di LRT. Jadi naik Whoosh worth it atau tidak?

Demikian catatan perjalanan saya dan istri pada 14-15 April 2024, tentu catatan ini sebagai arsip perjalanan hidup saya, semoga juga bisa memberikan manfaat untuk pembaca sekalian.

Tuesday, 29 October 2019

Tuesday, 3 September 2019

Nanjak Dadakan ke Gunung Lembu

Sebagai orang yang gemar jalan-jalan, naik gunung merupakan hal yang jarang saya lakukan. Sekali sih pernah, naik gunung Papandayan. Sayangnya, naik papandayan tidak bisa dibilang pengalaman naik gunung yang curam dan menegangkan, soalnya Papandayan treknya lumayan landai dan ya enak buat pemula. Papandayan sebenarnya agak membingungkan, dia masih disebut gunung apa lebih layak disebut kafe. Lah gimana bukan kafe, banyak warung dan musholla setelah nanjak, lebih kaya kafe di atas gunung aja. 

Perjalanan ini disebut dadakan karena kami berangkat hari Minggu 01 September 2019, tapi keputusannya baru diputuskan hari itu juga, pada dini hari. Sekitar pukul 00.30 lebih tepatnya perjalanan ke Gunung Lembu ditetapkan. Berbekal pengetahuan seadanya, kami sangat meremehkan gunung ini hingga yakin bisa dengan bugar pergi dan kembali setelah melakukan perjalanan. Ketinggian yang hanya 780 mdpl membuat kami yakin, Gunung Lembu bisa ditaklukkan dengan menyenangkan.

Demi mengeluarkan biaya seirit mungkin, kami memutuskan untuk membawa bekal untuk di perjalanan, yang ternyata cukup hingga perjalanan pulang. Nasi, mie, telor tentunya menjadi makanan wajib yang setiap perjalanan dibawa layaknya orang berenang. Hanya saja, ada tambahan lauk tahu dan teri yang menjadi pelengkap dari menu penuh karbohidrat tersebut. Setelah menetapkan rencana di dini hari untuk berangkat jam 6, kami pun akhirnya berangkat pukul 07.30. Ya, namanya ngantuk ya, maklumin sajaaaa.

Estimasi perjalanan di google maps dari Bekasi hingga tiba di Gunung Lembu sekitar tiga jam tiga puluh menit perjalanan. Di perjalanan, kami memutuskan berhenti untuk membeli air mineral yang besar sebanyak dua botol. Entah kenapa saya merasa harus membeli dua botol meskipun perjalanan yang dibayangkan akan tidak terlalu berat. Ya, berjaga-jaga tidak salah kan. Setelah berhenti di sekitar Tanjungpura untuk menambah perbekalan, saya pun jadinya dibonceng. Belum sampai 10 menit teman saya membawa motor, entah kenapa, aura razianya sangat kuat, langsung ketemu dengan razia yang padahal daritadi adem ayem, kebetulan mungkin ya. 

Sayangnya, surat-surat kami lengkap, hingga diizinkan untuk melanjutkan perjalanan. Saat berangkat kami menghindari Purwakarta Kota karena sudah terbayangkan akan memakan waktu yang lama. Kami pun belok melalui Walahar, melintasi kawasan industri, melalui jalan Curug, hingga jalanan yang kiri ke arah Wanayasa dan kanan ke arah Ciganea. Sesampainya di Ciganea, ketemu razia lagi, kalau emang akrab sama razia susah, ketemu mulu. Awalnya polisi tidak mau memberhentikan, ehhh, pas sampai tempat razia temen saya malah tiba-tiba ngegas. Saya yakin polisi berpikiran kami mau kabur secepat mungkin, akhirnya polisi pun langsung bergegas ke tengah dan memberhentikan kami. Kami pun kembali diizinkan, sambil saya bertanya arah Gunung Lembu, dan katanya masih lurus nanti belok kanan, meskipun saya tidak tahu belok kanannya dimana.

Ternyata, menurut google maps beloknya masuk melalui Pasar Anyar Sukatani, kami sempat kelewat karena agak ragu. Saat masuk pasar sedikit kami tanya ke warga

SAYA
"Pak, gunung lembu ke arah mana?"

WARGA
"Bla bla bla tebih"

SAYA
"Tebih, kaditu?" (sambil menunjuk ke arah)

WARGA
"Bla bla bla bla tebih"

Lagi-lagi yang saya cuma bisa dengar tebihnya aja. Tebih itu artinya jauh dalam bahasa sunda.

SAYA
"Nuhunnya pak"

Percakapan yang tidak efektif pun berakhir begitu saja. Maaf ya pak, meskipun akta kelahiran tercatat di Garut, tapi saya cuma numpang lahir aja, biar kesannya kaya orang jauh gitu. Akhirnya kami terus melakukan perjalanan sesuai dengan arahan google maps, mantap google maps. Sekitar empat puluh lima menit dari Sukatani, akhirnya kami tiba di pos pendakian utama Gunung Lembu. Oh iya, jangan coba-coba pergi dengan motor seadanya, nanti bikin repot aja, periksan ban dan mesin jangan lupa yaa.

Akhirnya sekitar pukul 11.00 kami tiba di parkiran, langsung parkir, ya iyalah ngapain lagi di parkiran. Bayar parkir di muka sebesar lima ribu rupiah. Teman saya yang daritadi sepertinya menahan diri, langsung bertanya dimana toilet. Dia pun langsung melampiaskan keinginan yang sepertinya dipendam semenjak perjalanan dimulai. Untungnya dia bertanya sih, karena memang toilet hanya ada di bawah. Kalau engga, dia harus melampiaskannya di tempat terbuka, kan kasian yang liatkalau ada yang ga sengaja liat.

Sembari teman saya ke toilet, saya pun bergegas melakukan registrasi. Untuk pembayaran dipungut satu orang sebesar sepuluh ribu rupiah. Nanti akan dapet karcis sebagai tanda bukti pembayaran.  Saya juga ikut ke toilet untuk cuci muka, hmm, sayangnya karena tidak menggunakan masker dan membuka helm selama tiga jam, air yang dibasuhkan ke wajah saya seperti mengalir tanpa terasa sama sekali, air tidak mampu melunturkan debu, jadi debu yang melunturkan air. Sayangnya, sebelum naik, kami tidak ada sesi berdoa bersama terlebih dahulu. Sungguh perjalanan yang benar-benar tidak religius. Saat mulai mendaki, saya melihat jam, untuk menghitung estimasi perjalanan. Pendakian dimulai pukul 11.15 WIB.

Perjalanan pun dimulai dengan melelahkan. Perjalanan tiga jam yang ditempuh sepertinya sudah sangat menguras energi. Baru tanjakan awal saja kami sudah langsung kelelahan. Hampir kami pulang semenjak 10 menit berjalan. Akhirnya, di tanjakan curam yang pertama, kami berhenti di tengah-tengah. Baru ingat kami belum mengisi energi sama sekali, kebetulan lambung teman saya sudah bergetar dengan hebat. Akhirnyaaa, bekal yang kami bawa dibuka juga, meskipun ternyata makannya tidak terlalu banyak, karena tidak terlalu bernafsu mungkin karena kelelahan menanjak (baru juga 10 menit). Sialnya, pas lagi makan, sendok saya terjatuh, haduhh. Tapi yasudahlah, dilap saja make kassa, gembel aja ga mati kan ya.

Selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan, perjalanan pun semakin curam. Definisi manis di awal benar-benar terjadi selama perjalanan. Awalnya seperti akan melakukan perjalanan landai yang tidak terlalu melelahkan. Hmm, nyatanya, tidak sama sekali.

Teman saya yang mendaki dengan semangat sebelum sadar punya darah rendah
Darah rendah yang dimiliki teman saya membuat dia tidak bisa bertahan lama, akhirnya kami pun seperti berhenti setiap kali menaiki tanjakan curam. Hingga akhirnya kembali ditemukan daerah yang agak landai, dan ada saung serta tempat bersantai. Jadi kaya ayunan-ayunan gitu.

"Kayaknya gua mau punya ginian deh nanti di rumah" ide merepotkan yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya
Selepas beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan, oh iyaa, tentunya ga lupa dong untuk foto wajib setiap melakukan perjalanan. Ini biasanya dilakukan oleh anak-anak hits, biar jadi hits juga.

Iyak, foto kaki, wajib dilakukan

Perjalanan pun kembali dilanjutkan, sempat bingung harus lewat mana, karena ada batu besar yang ada tangganya sih, tapi karena ragu, masa iya lewat situ karena jalannya kecil, jadi kami berhenti dulu. Temen saya yang keliyengan pun akhirnya duduk dulu sembari saya cek rute, dan ternyata, rutenya benar. Sepertinya sudah lima menit saya mengecek rute, jadi kepikiran, temen saya yang lagi haid nanti pas saya balik lagi beneran temen saya ga ya, kebanyakan baca cerita horor jadi mikir aneh. Untungnya, dia melakukan sesuatu yang membuat saya yakin bahwa itu beneran dia.

Tiduran sambil selfi
Iyaaaa, ini adalah sesuatu yang pasti dilakukan manusia pada umumnya, apalagi perempuan. Jadi saya dapat melanjutkan perjalanan dengan tenang karena ternyata saya masih berjalan bersama manusia. Pendakian pun kembali dilanjutkan, ada pendakian yang curam, ada juga yang tidak curam. Layaknya hidup, naik turunlah masalahnya.

tidak curam
lumayan curam
Sayangnya, karena terlalu sibuk memikirkan apakah sampai atau tidak, kami jadi tidak foto-foto perjalanannya. Sudah terlalu lelah untuk melakukan pemotretan, toh minum saja seperti tidak berasa, tidak menghilangkan haus sama sekali. Mencapai batu lembu saja belum sama sekali, air minum pun sudah habis satu botol, untung saja beli dua. Saking keliyengannya, jalan yang tidak terlalu curam pun membuat agak oleng.


Akhirnyaaaaa, kami pun tiba tiba di destinasi utama, yakni Batu Lembu. Perjalanan kami mendapatkan rekor baru dari orang-orang yang buat catatan perjalanannya, hahahaha. Kami tiba pukul 14.15 sekitar tiga jam perjalanan dengan pemberhentian yang lebih banyak dari Transjakarta. Pas sampe, rasa lelahnya kayak hilang seketika. Wahh, ga nyangka banget gitu loh bakal sampe, diliat dari track recordnya.

TEMEN
"Gua tadi udah mikir mau berhenti aja tau"

Untungnya dia engga bilang itu dari awal, kalau bilang kan bisa aja berhenti. Dari atas gunung lembu kita bisa liat Waduk Jatiluhur dari atas, ihihiw. Kayaknya daripada digambarin mending kasih liat aja fotonya ya.

Kang villa kang?

Dampak foto di pinggir, jadi lemes
Sudah jelas beberapa foto yang bagus di atas bukan hasil foto saya, hahaha. Saya ga biasa foto-foto. Ada anak sekolahan yang rombongan gitu, jadi mereka rame-rame disana. Ga kebayang dong naiknya kaya apa, bener deh, rame banget. Sampai akhirnya mereka mau pulang, Alhamdulillah jadi sepi, tapi pas foto kayaknya kendala ama posisinya, hahaha. Sempet ngelirik-lirik tapi kok belum minta-minta, padahal temen saya udah berharap diminta tolong fotoin.

SAYA
"Fotoin gih tawarin"

TEMEN
"Entar, gua liatin dulu"

SAYA
"Tumben kaga langsung nawarin dia" (dalem hati)

Alarm reminder ashar yang muncul di handphone membuat saya kembali sadar akan melewatkan Sholat Zuhur hahahaa. Saya pun mencoba untuk mengecek apakah ada tempat sholat. Namun, baru berjalan sebentar ke daerah warung, ada teriakan yang agak mengganggu saya.

ANAK SEKOLAHAN
"IHHH, TETEHNYA BAIK, NAWARIN FOTOIN"

Suaranya pun kabarnya terdengar sampai Waduk Jatiluhur dan mengakibatkan gangguan listrik di beberapa daerah. Saya mikir, lahhh dia ditinggal mau minta foto. 


Ternyata memang tidak ada tempat untuk sholat, tapi ada yang jual kopi. Kapal api harganya lima ribu, lumayanlah dengan biaya perjalanan bawa kopi ke atas gunung yang terbayang melelahkannya. Jadi kalau mau ngecamp disini juga bisa, biayanya 15.000, lebih mahal 5.000. Masih beberapa langkah lagi ke atas untuk ngecamp di puncak Gunung Lembu.

Setelah menikmati angin Gunung Lembu yang bisa bikin masuk angin, kenceng banget bener deh. Kami pun memutuskan untuk pulang pukul 16.30 biar ga kemaleman. Perjalanan turun lebih bikin saya kesel, karena kaki saya sampe gemeter hahahaha. Parah banget. Sering jatoh juga karena sepatu yang saya pake lumayan licin dan ya berkali-kali bemper belakang bertemu dengan tanah. Untungnya jatohnya ya jatoh yang lucu, jadi masih bisa menikmati, kalau udah kenapa-napa kan ribet. Pas turun juga ketemu pendaki yang bawa speaker, hahaha seru banget ga kepikiran make speaker, karaokean sambil naik.

Saatnya turunnn
Saya yang kuat naik, ternyata lemah saat turun, kebalikan sama temen saya yang kuat pas turun dan lemah pas naik. Bahkan, talenta menarinya dikeluarkan saat turun dari pendakian.



Perjalanan turun pun memakan waktu sekitar satu jam, waktu yang normal ditempuh oleh orang-orang. Selepas turun tentunya langsung ke toilet untuk cuci muka dan ganti baju, hahaha lepek banget sumpah, padahal pas naik ga selepek itu. Sampe bagian kakinya juga kotor, padahal saya make sepatu dan kaos kaki. 

yah ga keliatan kotornya
Kami pun berangkat pulang pukul 17.40, dengan lampu dekat yang mati dan harus menyalakan lampu tembak yang hampir mati juga, perjalanan berasa horor karena takut ada lubang yang tidak terlihat. Mana pinggirnya ada yang jurang. Hingga akhirnya teringat bekal yang belum habis dan makan bekal yang tadi di daerah Purwakarta Kota. 

Alhamdulillah jadi irit, tapi mienya basi hahaha
Jadi dapet ilham juga bahwa, mie kalau seharian bisa basi hahaha, lebih baik mie gorengnya juga digoreng bareng telor, karena yang berminyak kan sifatnya lebih awet. Makanya wajah kita kalo ada minyak jadi awet, awet jeleknya. Perjalanan pulang memakan waktu lebih lama sampai sekitar pukul 23.00. Bisa dibilang perjalanan pulang memakan waktu lima jam lebih, hahaha. Soalnya lewat Purwakarta Kota, karena belum isi bensin dan sekalian liat lampion di Purwakarta. Tapi ternyata macet di pasar deket flyover yang deket stasiun Cikampek kalo ga salah. Bahkan, macetnya sampai Bekasi, Masya Allah deh. 

--
1. Secara biaya, penulis menghabiskan biaya 45.000 untuk akomodasi perjalanan
2. Hingga tulisan ini dibuat badan penulis masih sakit akibat dari perjalanan yang dilakukan


Sunday, 31 March 2019

Jangan Bingung Kasih Hadiah Buat Wisuda, Ini Dia 5 Hadiah Wisuda Anti Mainstream Yang Unik dan Murah


"Menghargai perjuangan seseorang itu penting, karena kita tidak tahu apa yang dia lalui untuk sampai di garis akhir"
Bagi kebanyakan orang, wisuda merupakan sebuah proses pembuktian diri kita kepada diri sendiri dan orang lain, baik kepada orang tua, ataupun mantan yang pernah meninggalkan kita. Sehingga, wisuda yang hanya sekali dilaksanakan S1 menjadi perayaan yang disambut meriah oleh orang-orang di sekitar kita. Menjadi seorang sarjana merupakan sebuah pencapaian yang berharga bagi setiap orang. Jalan yang berliku-liku, terkadang jalan buntu, tak membuat seseorang pantang menyerah untuk mengejar gelar sarjana dan menjadikan itu salah satu pencapaian hidup mereka, yang bahkan beberapa orang tidak meneruskan pekerjaannya di bidang tersebut, namun tetap menjadikan itu sebagai bukti bahwa mereka orang yang bertanggung jawab, menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.



Perayaan seperti ini tentunya memberikan kesempatan orang lain untuk mengapresiasi dengan berbagai macam hadiah saat wisuda. Namun, seringnya, perayaan itu membuat kita tidak bisa merayakan kesenangan dengan diri sendiri. Apabila ada dua puluh orang teman yang wisudanya kita rayakan dengan memberikan hadiah misalkan bunga, boneka, atau alat-alat lainnya, perayaannya bukan hanya perayaan wisuda teman kita. Perayaan tersebut juga merayakan dan mengingatkan bahwa beberapa hari ke depan makanan hanya akan dipenuhi nasi kecap, nasi kerupuk, ataupun nasi blueband. Maka dari itu, sebenarnya ada gak sih hadiah wisuda yang murah, bisa untuk banyak orang, tapi tetap unik dan berkesan? Yuk kita simak lima hadiah wisuda yang layak untuk diberikan ke teman tercinta kita yang sedang berbahagia.

KOPI


Apa yang bisa mengalahkan nikmatnya kopi setelah momen yang membahagiakan dan melelahkan? Kopi sachet bisa menjadi hadiah yang bermanfaat buat teman-teman kita yang sedang merayakan wisudanya. Biasanya, wisuda dilaksanakan pagi ataupun siang, sehingga peluang mereka untuk sampai rumah adalah sore hari. Bayangkan, selepas wisuda, sambil menikmati senja, wisudawan menikmati kopi yang lain dari biasanya, bukan kopi hitam ataupun kopi susu, tapi latte cafe, bisa rasa original, green tea, ataupun taro. Tentunya, momen yang membahagiakan itu akan sangat menjadi sempurna dilengkapi dengan kopi di sore hari. Kalau kata abang-abang betawi, selama gue bisa ngopi, gue ga butuh apa-apa lagi. Abang-abang mana ya yang ngomong. 

MIE INSTAN

Kalau ditanya, makanan apa yang rasanya paling nikmat dan mudah dibuat? Sudah jelas mie instan jawabannya. Sibuk dengan persiapan wisuda tentunya bikin orang ga menyiapkan untuk membuat makanan saat pulang nanti. Daripada beli di luar yang makan biaya, atau malah rasanya ga cocok sama lidah, mending kita kasih mie instan biar para wisudawan bisa menikmati pasca wisudanya dengan tenang, dan tidak pusing harus makan apa. Bayangkan, mie kuah di sore hari, ditemani kopi latte green tea ataupun taro, begh, akan menjadi pasangan serasi, mengalahkan kamu dan dia yang hanya kamu saja menganggapnya serasi. Eitss, tapi inget, yang dikasih jangan mie mainstream seperti rasa-rasa yang sering kita coba tanpa ada kesegaran khusus. Ada rekomendasi mie Yum Yum ini, mengandung kesegaran seperti Tom Yam sehingga membuat kita lebih rileks dan segar setelah menjalani momen wisuda. 

MAYONAISE

Nahh, kok mayonaise? Kalau yang ini udah ga ada lawan. Pulang wisuda paling enak ngapain? Ya ngemil. Sambil duduk di teras rumah, membayangkan perjuangan kita untuk menjalani skripsi berjuang melawan revisian dosen pembimbing yang menyenangkan. Tapi, rasanya, mengenang perjuangan sambil ngemil perlu ada rasa-rasa yang bikin ngemilnya makin enak sehingga dapat membayangkan momen perjuangan dengan tenang dan santai. Tinggal cocol, bisa melengkapi cemilan sambil ngegadoin kertas skripsi dengan mayonaise yang lezat ini.

BUMBU NASI GORENG INSTAN

Kalau ini udah ga ada lawan deh, praktis banget buat temen kita yang wisuda kalau laper laper karena kebanyakan bengong setelah wisuda. Setelah menjalani fase pengangguran dan mencari kerja, tentunya wisudawan harus irit-irit biaya dalam mencari makan agar pengeluaran pengangguran tidak membengkak. Nah, teman-teman akan berguna kalau memberikan ini sebagai hadiah wisuda agar para wisudawan tidak perlu repot memikirkan makan apa dengan pengeluaran yang membengkak. Itung-itung, wisudawan juga bisa sambil belajar masak nasi goreng yang enak buat calon pasangannnya nanti. Uhuk.

PENYEDAP RASA

Terakhir, tapi bukan tidak penting, yaitu penyedap rasa. Penyedap rasa ini bisa menjadi alternatif apalagi untuk para wisudawan yang mulutnya asem. Daripada menghisap rokok yang jelas-jelas berpotensi menyebabkan kanker, atau gadoin permen yang bikin batuk. Mendingan, mencicipi penyedap rasa yang jelas jelas ada kandungan gizinya dan lezat. Sehingga, para wisudawan bisa terhindar dari kanker dan penyakit batuk pasca wisuda. Penyedap rasa ini juga bisa membantu para wisudawan belajar menggunakan ini untuk makanan yang murah demi menghemat pengeluaran pasca wisuda loh. Soalnya, di penyedap rasa biasanya ada resepnya buat sekalian belajar masak saat berkeluarga nanti. Selain itu, kalau kita beli banyak, ini bisa jadi slempang slempangan lohh, siapa tau gak setelah lulus direkrut jadi Duta Masako. Harapannya juga, semoga penyedap rasa ini bisa memberikan rasa terhadap wisudawan yang lulus namun perasaannya masih hambar, karena tidak lulus ujian untuk mendapatkan gebetannya.

Nah, masih jaman pusing mikirin hadiah wisuda? Ga jamannn. Selain bermanfaat buat para wisudawan, hadiah ini juga akan mengurangi dosa karena tidak mencerminkan perilaku yang mubazir yang tentunya perbuatan tersebut dilarang karena tidak baik. Bahwasanya, hadiah ini semuanya memiliki jangka waktu yang bisa bertahan lama, dan bisa dikonsumsi sehingga memiliki manfaat yang jelas terhadap wisudawan. Selain itu, kelima hadiah ini sangatlah murahh dan mudah didapatkan oleh kita semua lho gengsss. Jadi, jangan takut mengapresiasi, karena mengapresiasi tidak perlu mahal, sulit, ataupun barang yang jarang sekalipun. Bahkan, kehadiranmu saja sudah merupakan apresiasi sekaligus penyemangat kok, huehehehe kok jadi kesitu. Yuk, mari saling mengapresiasi !

Emang harganya berapaan kisarannya? Kalo mau beli banyak ribet dong harus ke agen? EITSSS, ada kok di online. Nih https://www.tokopedia.com/ajinomoto. Heheh, semakin mudah kan aksesnya.

Thursday, 7 February 2019

Membuat Paspor di Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Timur

Kali ini hanya sekedar ingin sharing pengalaman membuat paspor di Kanim Jakarta Timur. Oh iya, kantor imigrasi bisa disingkat Kanim ya. Meskipun gua tinggal di Bekasi, ada satu alasan yang membuat gua memilih untuk bikin paspor disini. Gua mau buat paspor tiga Januari, karena sekarang pendaftarannya lewat online, jadi gua ngecek situs kantor imigrasi Bekasi. Ternyata, setelah gua cek antriannya, udah penuh sampe tanggal 20 dong. Gila sih, karena tanggal 20an gua berangkatnya, ga mungkin gua bikin mepet-mepet. Setelah beberapa waktu mencari, akhirnya teringat ada Kantor Imigrasi deket Lapas Cipinang. Alhamdulillahnya, gua bisa daftar di hari yang gua inginkan.


TAHAP 1 : Pendaftaran Online

Langkah pertama yang harus kalian lakukan apabila ingin membuat paspor adalah dengan mendaftar secara online. Bisa aja sih kalian langsung datang, tapi kalian tetap akan disuruh daftar terlebih dahulu di komputer yang telah disediakan, dannnnn belum tentu dapat di hari yang sama, kalau dapatnya besok, juga belum tentu dapat di tempat yang kita datengin. Ada bapak-bapak yang daftar langsung, dia dapet jadwal kosong hari berikutnya. Ga bisa di hari yang sama. Sialnya, bapak itu dapat di kantor imigrasi Jakarta Utara. Soalnya, di Jakarta Timur udah penuh. Huhu, kasian si bapak.

Daftarnya dimana? Perlu ditekankan bahwa setiap daerah kemungkinan punya sistem online yang berbeda-beda. Awalnya, gua udah nanya-nanya gitu kan ke temen gua. Katanya, sekarang make aplikasi. Yowes, pada awalnya gua sotoy download aplikasi paspor online yang gua dapatkan dari https://antrian.imigrasi.go.id



Tapi, setelah gua download, terkejut abang terheran-heran, karena ga ada lokasi Kanim yang gua inginkan. Jangan Bekasi, lah kok Jakarta Timur aja ga ada. Lokasi terdekat ada di Depok, Soekarno Hatta, Karawang, dan Cilegon. Mampus kata gua, masa gua bikin paspor ke Karawang dan Cilegon. Gua mikir, mungkin emang di Kanim Bekasi ama Jaktim ga bisa buat paspor kali ya. Gua sangat berpikir bodoh waktu itu. Akhirnya, gua pun coba daftar di Depok dan Soetta. Alhamdulillahnya, dari tanggal 3 sampe 10 gua cobain ga bisa-bisa. Mungkin penuh kali ya. Berbekal rasa penasaran, gua coba daerah Karawang, penuh juga. Lokasi terakhir yang gua kenal adalah Cilegon, karena gua ga mungkin ke Bandung. JENG JENG JENG, Cilegon tanggal 3 bisa donggg. Gua udah siap-siap untuk ke Cilegon, tapi belum gua daftarin, gua masih penasaran dengan Kanim incaran gua.

Gua browsing dong Kanim Bekasi, dan ternyata bisa bikin paspor disitu, kampret. Dari situ gua tahu bahwa tiap daerah punya caranya masing-masing dalam prosedur pembuatan paspor. Gua ga ngerti kenapa ada beberapa daerah yang sama, mungkin geng-gengan, dan Bekasi ga diajak karena planet. Selanjutnya, gua coba daftar melalui website https://bekasi.imigrasi.go.id/, ada konfirmasi SMS gitu, LAMA BANGET SUMPAH NYAMPENYA. Gua kesel, gua tungguin, gua liat taunya hape gua masih mode pesawat. OK MAAP. Setelah berhasil daftar sebagai member, gua coba liat tanggal yang kosong. Biadab, kosongnya tanggal 20, yakali gua berangkat tanggal 22 daftar paspornya tanggal 20. Disitu gua pesimis, mungkin memang sudah takdir gua ke Cilegon, ya gpplah.

Gua udah mikir, apa yang harus gua lakukan di Cilegon, perlu ngajak orang ga, apa gua sekalian jadi volunteer Tsunami Selat Sunda. Sembari menyiapkan sabun muka untuk menghadapi debu Cilegon yang lebih parah dari Bekasi, gua memutuskan untuk browsing lagi. Kali ini gua penasaran sama Jakarta Timur, dengan harapan, ya ada dong. Untungnya, gua ga kapok untuk berharap meski kamu yang kuharapkan tidak tercapai, uhuk. Setelah gua buka websitenya di jakartatimur.imigrasi.go.id, ternyata, ada aplikasinya juga. Tapi beda aplikasi, bingung gua. Imigrasi Jakarta Timur ama Soetta lagi berantem kali ya jadi beda geng. Aplikasinya yang logonya warna merah dong ternyata, cuma tampilannya sama, terus di websitenya ada kata-kata LayananBeta


Meskipun menemukan aplikasi pada akhirnya, gua sempat meragukan, kok masih beta, ini belum official apa gimana. Cuma gua tetep daftar, dan pas daftar bener dong ada Jakarta Timur. Alhamdulillah, jangan pernah berhenti berharap, tidak tahu harapan mana yang akan terwujud. Apakah kamu menjadi salah satu harapan yang akan terwujud? Entahlah. Gua lanjutkan proses pendaftaran, dan eng ing eng, tanggal tiga kosong, ALHAMDULILLAH, gua ga jadi ke Cilegon. Jadinya ga perlu beli sabun muka baru karena takut abis buat perjalanan ke Cilegon. Oh iya, fyi, ke Cilegon kalau naik motor tiap dua jam perlu nyuci muka. Gua pun dapat barcode yang tulisannya waktu antrian 13.00-14.00 karena gua milih jam siang.


Oh iya, jamnya ada pagi dan siang, terserah kalian mau milih yang mana. Setiap sesi juga kuotanya cuma 50 orang, jadi ga usah takut terlalu rame. Ehehehe jangan lupa diprint ya, soalnya yang screenshot tetep aja disuruh buka langsung di website dulu, ga boleh screenshotan. Ga tau bedanya apa.

Tahap 2 : Menyiapkan Berkas

Setelah gua berhasil mendaftar, langsung melihat berkas-berkas yang perlu dipersiapkan untuk membuat paspor. Untungnya, websitenya sangat informatif. Mulai dari biaya, prosedur, persyaratan, dibuat dalam file pdf yang mudah untuk diakses. Joss. Dokumen yang diperlukan untuk membuat paspor, yaitu :
  1. e-ktp atau ktp lama dengan bukti bahwa telah merekam e-ktp tapi belum jadi atau surat keterangan pindah ke luar negeri
  2. kartu keluarga
  3. akta kelahiran/akta perkawinan atau buku nikah/ijazah/surat baptis
  4. surat pewarganegaraan Indonesia bagi orang asing yang memperoleh kewarganegaraan Indonesia melalui pewarganegaraan atau penyampaian pernyataan untuk memilih kewarganegaraan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
  5. surat penetapan ganti nama dari pejabat yang berwenang bagi yang telah mengganti nama
  6. paspor biasa lama bagi yang telah memiliki paspor biasa
Tentunya, sebagai orang yang baru buat paspor, persyaratan yang gua perlukan yaitu dari nomor satu sampai tiga. Untungnya, gua udah buat e-ktp dua minggu sebelumnya, karena emang mau buat paspor jadi gua udah baca-baca dan perlu e-ktp. Lalu, gua pun mulai mencari berkas yang diperlukan, kartu keluarga aman, ijazah aman. Akta pernikahan, ga ketemu, oh iya baru inget pernikahannya cuma mimpi. Tapi, gila, akta kelahiran gua yang asli mana ya. Cuma ketemu fotocopyannya aja. Gua panik dong, masa iya ga jadi bikin paspor gara-gara ga ada akta. Pada akhirnya, gua hubungin Customer Service Kanim Jaktim. Wuih, online kata gua. Gua hubungin dong


Yey bisa, akhirnya malam itu, gua bisa tidur dengan tenang karena besoknya membuat paspor, asik asik.

Tahap 3 : Check In

Gua pun sampe imigrasi jam dua belas lewat, yasudah sekalian sholat zuhur dulu. Oh iya, masjidnya bagus kok, enak juga buat tidur, nyaman ahaha. Setelah waktu tinggal sepuluh menit menjelang istirahat selesai, gua langsung ke ruang utama. Tempat nunggunya juga nyaman terus ada wifi yang kayaknya ga ada koneksi internetnya waktu itu, soalnya gua ga bisa ngapa-ngapain make wifi itu, ujung-ujungnya make data lagi. Di depan kantornya juga ada informasi bahwa jangan make celana pendek, sendal dan kaos, kalau make itu langsung disuruh pulang. Sebaiknya, gunakan sepatu, kemeja, dan celana panjang yang bagus ya, apalagi mau foto, hihi.

Akhirnya tiba, tahap berikutnya kita ke customer service buat isi biodata, jangan sampe salah ya. Gua udah antri di antrian paspor karena latah ngeliat orang ngantri, ternyata harus ke customer service dulu. Jadi, gua bingung sih kenapa isi biodata lagi padahal ada pendaftaran online. Yowes, setelah nunjukkin kartu antrian, gua pun dikasih formulir untuk daftar. Catatan, kalian kalau bisa bawa pulpen sendiri karena pulpennya pada engga nyata, siapin materai juga karena ada surat pernyataan. Gua sih udah bawa, hehe. Setelah isi data-data yang diperlukan, kita ga langsung ke antrian paspor, tapi perlu ke customer service buat check in. Nah, check in ini sesuai jamnya ya, kalau antrian 13.00-14.00 berarti check in bisanya jam segitu. Soalnya ada yang dateng 13.15, dia antrian 14.00-15.00, dikasih kertas buat isi data diri, tapi ga diizinin untuk check in. Jadinya, tetep ga bisa melanjutkan pendaftaran.

Setelah check in, dicontreng gitu make pulpen haha, perlu check out ga ya nantinya? Gua belum tau nih disini. Kalo check out kaya hotel aja ya. Nah, di antrian ini kita perlu antri di belakang garis kuning, biar tertib aja hahaha. Nanti disini berkas kita diambil, yang fotocopyannya, terus aslinya dicek, jadi kalian siapin map aja biar rapih dan ASLINYA JANGAN LUPA dibawa. Nanti berkas kita dikumpulin di map imigrasi, terus kita dikasih map itu dan disuruh ke lantai atas untuk foto, hihi, foto cuy.

Tahap Empat : Wawancara, Rekam Sidik Jari, dan Foto

Selanjutnya naik ke atas untuk wawancara, rekam sidik jari, dan foto. Kita udah dapat nomor antrian di map, jadi tinggal nunggu dipanggil aja di atas. Gua nunggu sekitar 10 menit kurang lebih dan akhirnya dipanggil juga. Ruang tunggunya luas banget dan adem loh, juga ada larangan jangan memotret. Disini juga kamar mandinya enak, nyaman buat tinggal, dan ramah anak, jadi kaya ada bermain perosotannnya gitu yang kaya di rumah sakit. Jadi pengen ngajak anak kesini.

Akhirnya, dipanggil kan, terus diwawancara tujuannya mau ngapain. Gua jawab aja mau jalan-jalan. Eh ditanya kemana, jawab ke Malaysia. Selesai, singkat banget kalo jawab mau jalan-jalan. Soalnya ada sebelah gua yang bilangnya kerja, ditanya surat keterangan kerja gitu. Setelah itu gua ditanya mau bikin paspor yang apa, e-paspor atau paspor biasa. Kalau e-paspor bisa lewat autogate dan bebas visa ke Jepang. Buat yang jarang ke luar negeri mah mending biasa aja, wkwk harganya beda jauh. Setelah itu berkasnya dicek, terus data di ktp diinput ke sistem. Eng ing eng, ternyata ada kendala sama e-ktp gua

"Mas, e-ktpnya belum online ya?" ujar mba mba imigrasi keheranan
"Wah, gatau deh, saya baru bikin sih dua minggu yang lalu" balas saya sekenanya

Dalam hati gua mah, mau jawab ga ada kuota mba jadi ga online, tapi ga enak, btw, MANA GUA TAU ADA ONLINE-ONLINEAN, gua kan cuma bikin doang. 

"Iya nih belum online kayaknya" tegas mba mbanya lagi
"Terus harus dionlinein dulu mba?" tanya saya dengan heran
"Saya coba manual ya, nanti mas ke kelurahan nih dionlinein" jawab mbanya

Mbanya baik kok, dan ternyata, pas manual, ada kendala. Data gua ga bisa keinput, padahal katanya biasanya bisa. Udah tiga kali mbanya kaya mastiin bahwa dia mencoba input tapi gagal terus, tapi gua tetep berdiam seakan-akan memberi paksaan tanpa berbicara ke mbanya bahwa gimanapun caranya harus jadi. Sebagai lelaki yang pantang menyerah, menunggu bertahun-tahun aja kuat, apalagi menunggu mba mbanya berhasil input. Duduk doang juga gua jabanin. Ternyata, kata mbanya, kolom pekerjaannya belum diisi, hehehe, dan pas diisi langsung bisa.

HEHEHEHE, saya cuma bisa ketawa aja waktu itu.

Setelah data diinput, gua udah nunggu lama tuh, kaya di kursi lain udah dua kali ganti orang, di kursi gua masih gua aja, kursinya adabanyak, sepuluh kali ya, jadi ga terlalu lama nunggu. Mungkin imigrasinya tahu nunggu kurang enak. Habis itu foto dong, mba mbanya ramah-ramah kok, ditanya mau kemana, terus dicatet, jurusan apa, dsb. Setelah itu foto, rekam semua sidik jari. Oh iya, kalau fotonya merasa kurang puas bisa ganti ganti, tapi kalau sidik jari ga bisa, kan jarimu ga ada bedanya. Setelah foto gua dikasih struk gitu buat pembayaran, tapi karena udah jam dua lewat, ga tau masih bisa bayar.

Tahap Lima : Pembayaran Paspor

Pembayaran paspor dilakukan di mobil pos indonesia yang ada di kantor imigrasi. Nah, pas banget, gua dateng pukul 14.05 ke mobil ini. Kata masnya, yah harusnya sih jam dua udah close pembayaran, tapi saya coba ya masih bisa ga. Alhamdulillah, ternyata emang ga bisa, masnya jujur. Setidaknya kamu telah berjuang, terima kasih mas. Lalu sama masnya disarankan untuk pergi ke bank bri unit imigrasi yang ada di luar Kanim. Hanya perlu jalan sekitar tiga menit, udah sampe sih, lumayan deket, ada di dalam gang gitu. Sampai sana, langsung mengambil nomor antrian, karena cuma satu teller jadinya pelayanan agak lama. Ditambah itu kan bank buat transaksi yang lain juga, jadinya gantian sama warga sekitar, tapi mba-mbanya cakep, serius. 

Setelah bayar, kita akan dikasih bukti pembayaran dari BRI, dan bukti yang dikasih sama petugas wawancara jangan ilang, karena itu dipake buat ngambil paspor nanti. Biaya pembuatan paspor biasa itu 355.000, dan e-paspor itu 655.000, kalau bayar di BRI ada biaya admin 5.000. Nah, setelah bayar kita simpen dua bukti dari BRI dan dari petugas wawancara, buat kita gunakan untuk proses pengambilan setelah tiga hari kerja. Waktu itu gua datang hari Kamis, jadi Jum'at, Senin, dan Selasa. Menghindari adanya kemungkinan Selasa belum jadi, gua putuskan untuk datang Rabu.

Setelah itu kembali ke parkiran dan, wah, bersiap pulang dengan perasaan tenang. Ada tulisan juga parkir ga bayar, cuma tetep aja eh ga enak, jadinya tetep bayar. Itung-itung biaya standar dua motor. Pas mau pulang, kepikiran, awannya lagi bagus banget hari ini, jadinya mau foto deh, ehehe makanya cuma ada satu foto aja, itu juga foto di luar karena awannya bagus. Meskipun, hasilnya ga bagus-bagus amat ya, hahaha. Untung juga hari itu gua ga jadi update awannya bagus, karena ternyata beberapa menit kemudian ada yang update sama di hari itu, kan gaenak.

Tahap Enam : Pengambilan Paspor

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, yey. Hari Rabu gua berangkat dan sampe sekitar jam satuan di Kanim Jakarta Timur. Tanya customer service ambil dimana dan disuruh langsung ke belakang aja. Pas sampe tempat pengambilan, wuidih sepi, langsung deh gua registrasi ngasih bukti pembayaran dan kertas dari petugas wawancara. Lima menit kemudian gua dipanggil. Lalu diliat KTPnya, terus nulis data yang ada di paspor ke daftar hadir pengambilan paspor, selesai deh. Cepet banget pengambilan paspornya. Oh iya, buat yang mau diambilin bisa kok, kalau anggota keluarga make KK, kalau ga ada make surat kuasa kaya tulisan yang di gambar ini.


Oh iya, temen gua kan gua kasitau ngambilnya sekitar lima menit. Ternyata nasibnya sial, dan ga menentu, karena dia kebagian bareng jamaah umroh, jadinya lumayan lama dan memutuskan untuk pulang karena banyak banget jamaahnya. Overall, pelayanan yang ada di Kanim Jakarta Timur bagi gua memuaskan sih, pelayanan sampe wawancara sebenernya bisa sejam, cuma gua kehambat salah antri dan pas input data e-ktp aja. Mungkin karena kuotanya cuma 50 per sesi kali ya. Kursi dan ruangannya juga nyaman untuk menunggu, jadi betah nunggu disana, ehehe. Cuma wifinya aja kali ya yang ga gua tau fungsinya apa sebenernya karena ga bisa gua pake. 

Waktu Check In sampai Wawancara : 60 Menit (termasuk salah antri dan input data yang bermasalah)
Waktu Pembayaran : 40 Menit (di Bank dengan satu teller)
Waktu Pengambilan : 5 Menit

Kurang lebih gua menghabiskan 105 menit untuk melakukan pembuatan paspor di Kanim Jaktim termasuk kesalahan yang cukup makan waktu juga. Kayaknya segitu aja cerita membuat paspor dari gua, semoga memberikan gambaran bagi kalian yang mau buat paspor. Bayyy