Thursday, 31 January 2019

Hari Terakhir

Tepatnya dua puluh tiga Desember, tantangan ini dijalankan, kurang lebih lima pekan waktu yang dihabiskan untuk sampai ke sini. Temanya sih 30 hari menulis, tapi pada akhirnya molor sampai sembilan hari, huh memalukan. Motto mengenai terlambat atau tidak sama sekali memang benar adanya. Saya senang, dapat menyelesaikan ini dengan terlambat, daripada sama sekali tidak menyelesaikannya. Yahh, kecewa sih iya, namun tidak menyesalinya secara berlebihan. Sebab, selalu ada hal yang berkesan di setiap jalannya untuk menyelesaikan tiga puluh tulisan dalam tiga puluh sembilan  hari. 

Lantas, sesuai tema hari terakhir yang saya buat, apa yang dirasakan setelah mengikuti tiga puluh hari menulis? 

Pertama, saya akui melakukan kegiatan baru secara konsisten dengan tidak ada imbalan, tidak ada hukuman, dan bahkan bukanlah kewajiban yang tertera dalam agama ataupun negara, sangat sangat sangatlah sulit. Meskipun, mencintaimu secara konsisten tanpa adanya balasan mudah dilakukan. Namun, untuk kegiatan menulis ini sangatlah sulit. Belajar membagi waktu dari segala kewajiban yang terus bermunculan, bahkan beberapa kesempatan dalam hal lain yang akhirnya menguras waktu hingga membuka blog saja pun tak sempat. 

Kedua, pada akhirnya, semakin jauh hari yang dilalui, semakin memberikan kesadaran bahwa, dalam hidup memang tidak selamanya bisa kita gapai sesuai apa yang kita mau. Bisa saja digantikan dengan yang lain, bisa saja waktunya yang tertunda, atau bisa saja sama sekali tidak mendapatkan apapun. Disini saya mulai belajar mengikhlaskan dirimu, dengan mendapat kesadaran bahwa keinginan menyelesaikan dalam tiga puluh hari tidak bisa terpenuhi. Hal itu membuat saya sadar, meskipun kamu yang kuinginkan, mungkin memang sudah waktunya sekarang untuk merelakan. Sebab, berbeda dengan tiga puluh hari menulis yang memang mesti kudu wajib untuk diselesaikan, tidak ada urgensi yang besar untuk mendapatkan kamu. Hanya sebuah hawa nafsu dan hasrat membabi buta, yang tentunya, kalau tidak mendapatkan pun, ternyata tidak apa-apa. Hingga akhirnya, nafsu pun membutakan logika. Padahal, saya pernah bilang ke kamu, kalau nafsumu dipertahankan, akan menutupi orang-orang baik, tentunya bukan saya, karena saya tidak baik, yang mungkin saja datang kepadamu dengan tulus, atau mungkin tingkatan yang lebih tinggi, bukan sekedar tulus, tapi karena Allah. Saya mengatakan hal itu, namun ternyata memang sulit diaplikasikan. Maaf sudah sok berbicara tanpa tau sebenarnya itu sangat sulit.

Ketiga, melalui tiga puluh hari menulis ini saya sadar, seperti di postingan sebelumnya, saya banyak menulis tentang kamu. Tidak banyak sih, namun kamu mendominasi dibanding yang lain dalam tulisan saya. Awalnya, jelas, saya tidak terima, masa iya benar begitu, saya cek lagi, cek lagi, dan ternyata, benar. Terima kasih telah membuat saya senang untuk menulis, meskipun hanya menceritakan tentang kamu. Oh ya, tidak perlu ada hujan lokal untuk tulisan ini, saya tahu perasaanmu sudah sirna kok. Eh, memangnya pernah ada? Kamu kan tidak pernah konsisten dalam berbicara. Aku sebenarnya tidak tahu apa yang kamu ucapkan itu benar. Kamu masih sulit ditebak bagiku. Btw, aku masih memikirkan, perlukah kita kembali mengenal seperti sebelumnya? Sedikit lagi kita sudah berpisah, dan tidak bertemu pun tidak masalah karena kita dipertemukan bukan berdasarkan keinginan, tapi kewajiban yang beberapa bulan lagi harapannya selesai.

Keempat, orang-orang ternyata sangat menarik ya. Aku menemukan teman seangkatanku yang mahir sekali dalam menulis. Sepertinya, kalau dia buat novel, aku akan menjadi pembeli pertamanya. Hehehe, bohong deng. Aku download bajakannya saja, semoga ada yang upload. Ternyata, temanku waktu di masa-masa terkadang menggunakan baju kerja berwarna abu-abu, mahir juga dalam menulis. Sekarang dia sedang tidak melanjutkan sih, tapi sudah belasan tulisan dia dapatkan. Oh iya, doakan ya, semoga kemampuan menulisnya membantu dia untuk melancarkan kebaikannya menjadi ketua di salah satu organisasi. 

Kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Impian saya dari smp terwujud, punya adsense di blog. Wkekeke

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya dalam waktu yang tidak ditentukan.

Oh iya, saya lelah melihat layar laptop dari pagi sampai malam, sebuah perilaku durhaka seorang anak terhadap orang tua.