Pagi tadi saya termenung, saat mengikuti upacara sekaligus menjadi pengamat upacara dari kejauhan, bersamaan dengan ucapan selamat dari orangtua yang sedang menyiapkan sesuatu, 'Selamat Hari Guru Pak', kata mereka, yang membuat saya bertanya, sebenarnya, siapa yang diselamatkan? apa yang dirayakan? dan apa yang harus saya lakukan?
Sudah kita ketahui bahwa di dunia yang keras ini, merayakan sesuatu tentu sudah jadi budaya yang melekat di masyarakat kita. Selamat ulang tahun, selamat idul fitri, biskuit selamat, selamatkan badak jawa, dan berbagai macam selamat lainnya. Bukan saya tidak setuju, saya sih juga melakukan hal yang sama, mengucapkan selamat ke hal lainnya, namun pagi ini muncul pertanyaan, bagaimana saya harus memposisikan diri untuk tahun ini?
Berbagai pemikiran terlintas, berita baik, berita menyedihkan, semua terlintas di pikiran. Saat Hari Guru Nasional, pasti akan selalu ada guru yang diapresiasi oleh Kementerian. Hal ini menandakan bahwa pendidikan kita semakin baik, inovatif, dan berdampak entah dimanapun daerahnya. Hanya saja, dalam waktu yang sama, terdapat juga berita yang menyedihkan, gaji guru honorer negeri/swasta yang bahkan tidak menyentuh UMR, perlakuan tidak adil terhadap guru, kebijakan yang menyalahkan guru, guru yang dipaksa hebat meskipun kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi dengan baik, ataupun guru yang hanya dijadikan komoditas politik oleh kepentingan organisasi tertentu.
Dari berbagai perspektif yang muncul, pikiran saya berkecamuk, posisi apa yang harus saya ambil? Apakah ini hari bahagia, atau hari yang justru membuat kita harus merenung? Dari berbagai macam hal yang lewat, akhirnya saya sadar, saya bukan siapa-siapa, saya akhirnya hanya mengambil posisi untuk merefleksikan bahwa saya belum sampai ke sana. Saya cukup mengapresiasi terhadap hal-hal yang terjadi dalam hidup saya, yang mungkin kadang saya lewatkan tapi sebenarnya punya dampak yang besar.
Terkadang, peran guru saat perayaan hari guru hanya menjadi ajang seremonial semata, bukan saya mengomentari kegiatan yang ada, hanya saja, saya jadi teringat bahwa, ketika saya mengingat tentang ajang seremonial terhadap guru ataupun seringnya wali kelas ini dilaksanakan, saya semakin mengingat bahwa ternyata yang berdampak lebih besar dalam hidup saya bukan wali kelas saya. Kegiatan seremonial yang saya lakukan dulu, ternyata hanya momen yang terjadi begitu saja tanpa ada kesan dan kenangan apapun di kepala saya. Sungguh murid yang kurang ajar (saya).
Justru, yang akhirnya membentuk saya adalah orang-orang yang mungkin (saya lupa) tidak pernah saya berikan hadiah seremonial, bahkan mungkin saya juga lupa mengucapkan terima kasih. Jika ditanya apa yang dipelajari sewaktu SD? SMP? SMK? Justru saya tidak terlalu mengingat apa yang guru saya sampaikan terkait budi pekerti ataupun ilmu, meskipun merekalah yang membuat saya tahu dari saya tidak tahu. Lucunya, saya tidak tahu bahwa saya dulu tidak tahu, tiba-tiba saya tahunya saya itu tahu, lho gimana maksudnya? Hal yang paling saya ingat justru kenangan sama teman-teman, dan ucapan Pak Salim (Guru SMK saya) yang bilang Polisi Air, Polisi Hutan, Polisi Laut, sama Roberto Carlos anaknya banyak karena nanem benih dimana-mana.
Saya jadi tersadar, apa saya terlalu kurang ajar tidak tahu terima kasih, karena yang saya ingat justru didikan-didikan setelah itu, atau memang karena otak saya memori jangka pendek? Soalnya yang saya ingat malah orangtua sebagai madrasah pertama, dosen-dosen saya, guru pembimbing saya waktu PKM, dan rekan kerja pertama di dunia profesional yang membimbing saya. Hanya saja, saya kan jadi mikir, sebenarnya bagaimana agar memiliki dampak positif kepada siswa sebagai guru di SMA? Tapi setelah saya pikir-pikir, berdampak itu merepotkan dan melelahkan, mending tetap seperti biasa, main Football Manager, ngejar series, baca one piece, dan tidur habis jumatan.