Tuesday, 29 October 2019

Tuesday, 3 September 2019

Nanjak Dadakan ke Gunung Lembu

Sebagai orang yang gemar jalan-jalan, naik gunung merupakan hal yang jarang saya lakukan. Sekali sih pernah, naik gunung Papandayan. Sayangnya, naik papandayan tidak bisa dibilang pengalaman naik gunung yang curam dan menegangkan, soalnya Papandayan treknya lumayan landai dan ya enak buat pemula. Papandayan sebenarnya agak membingungkan, dia masih disebut gunung apa lebih layak disebut kafe. Lah gimana bukan kafe, banyak warung dan musholla setelah nanjak, lebih kaya kafe di atas gunung aja. 

Perjalanan ini disebut dadakan karena kami berangkat hari Minggu 01 September 2019, tapi keputusannya baru diputuskan hari itu juga, pada dini hari. Sekitar pukul 00.30 lebih tepatnya perjalanan ke Gunung Lembu ditetapkan. Berbekal pengetahuan seadanya, kami sangat meremehkan gunung ini hingga yakin bisa dengan bugar pergi dan kembali setelah melakukan perjalanan. Ketinggian yang hanya 780 mdpl membuat kami yakin, Gunung Lembu bisa ditaklukkan dengan menyenangkan.

Demi mengeluarkan biaya seirit mungkin, kami memutuskan untuk membawa bekal untuk di perjalanan, yang ternyata cukup hingga perjalanan pulang. Nasi, mie, telor tentunya menjadi makanan wajib yang setiap perjalanan dibawa layaknya orang berenang. Hanya saja, ada tambahan lauk tahu dan teri yang menjadi pelengkap dari menu penuh karbohidrat tersebut. Setelah menetapkan rencana di dini hari untuk berangkat jam 6, kami pun akhirnya berangkat pukul 07.30. Ya, namanya ngantuk ya, maklumin sajaaaa.

Estimasi perjalanan di google maps dari Bekasi hingga tiba di Gunung Lembu sekitar tiga jam tiga puluh menit perjalanan. Di perjalanan, kami memutuskan berhenti untuk membeli air mineral yang besar sebanyak dua botol. Entah kenapa saya merasa harus membeli dua botol meskipun perjalanan yang dibayangkan akan tidak terlalu berat. Ya, berjaga-jaga tidak salah kan. Setelah berhenti di sekitar Tanjungpura untuk menambah perbekalan, saya pun jadinya dibonceng. Belum sampai 10 menit teman saya membawa motor, entah kenapa, aura razianya sangat kuat, langsung ketemu dengan razia yang padahal daritadi adem ayem, kebetulan mungkin ya. 

Sayangnya, surat-surat kami lengkap, hingga diizinkan untuk melanjutkan perjalanan. Saat berangkat kami menghindari Purwakarta Kota karena sudah terbayangkan akan memakan waktu yang lama. Kami pun belok melalui Walahar, melintasi kawasan industri, melalui jalan Curug, hingga jalanan yang kiri ke arah Wanayasa dan kanan ke arah Ciganea. Sesampainya di Ciganea, ketemu razia lagi, kalau emang akrab sama razia susah, ketemu mulu. Awalnya polisi tidak mau memberhentikan, ehhh, pas sampai tempat razia temen saya malah tiba-tiba ngegas. Saya yakin polisi berpikiran kami mau kabur secepat mungkin, akhirnya polisi pun langsung bergegas ke tengah dan memberhentikan kami. Kami pun kembali diizinkan, sambil saya bertanya arah Gunung Lembu, dan katanya masih lurus nanti belok kanan, meskipun saya tidak tahu belok kanannya dimana.

Ternyata, menurut google maps beloknya masuk melalui Pasar Anyar Sukatani, kami sempat kelewat karena agak ragu. Saat masuk pasar sedikit kami tanya ke warga

SAYA
"Pak, gunung lembu ke arah mana?"

WARGA
"Bla bla bla tebih"

SAYA
"Tebih, kaditu?" (sambil menunjuk ke arah)

WARGA
"Bla bla bla bla tebih"

Lagi-lagi yang saya cuma bisa dengar tebihnya aja. Tebih itu artinya jauh dalam bahasa sunda.

SAYA
"Nuhunnya pak"

Percakapan yang tidak efektif pun berakhir begitu saja. Maaf ya pak, meskipun akta kelahiran tercatat di Garut, tapi saya cuma numpang lahir aja, biar kesannya kaya orang jauh gitu. Akhirnya kami terus melakukan perjalanan sesuai dengan arahan google maps, mantap google maps. Sekitar empat puluh lima menit dari Sukatani, akhirnya kami tiba di pos pendakian utama Gunung Lembu. Oh iya, jangan coba-coba pergi dengan motor seadanya, nanti bikin repot aja, periksan ban dan mesin jangan lupa yaa.

Akhirnya sekitar pukul 11.00 kami tiba di parkiran, langsung parkir, ya iyalah ngapain lagi di parkiran. Bayar parkir di muka sebesar lima ribu rupiah. Teman saya yang daritadi sepertinya menahan diri, langsung bertanya dimana toilet. Dia pun langsung melampiaskan keinginan yang sepertinya dipendam semenjak perjalanan dimulai. Untungnya dia bertanya sih, karena memang toilet hanya ada di bawah. Kalau engga, dia harus melampiaskannya di tempat terbuka, kan kasian yang liatkalau ada yang ga sengaja liat.

Sembari teman saya ke toilet, saya pun bergegas melakukan registrasi. Untuk pembayaran dipungut satu orang sebesar sepuluh ribu rupiah. Nanti akan dapet karcis sebagai tanda bukti pembayaran.  Saya juga ikut ke toilet untuk cuci muka, hmm, sayangnya karena tidak menggunakan masker dan membuka helm selama tiga jam, air yang dibasuhkan ke wajah saya seperti mengalir tanpa terasa sama sekali, air tidak mampu melunturkan debu, jadi debu yang melunturkan air. Sayangnya, sebelum naik, kami tidak ada sesi berdoa bersama terlebih dahulu. Sungguh perjalanan yang benar-benar tidak religius. Saat mulai mendaki, saya melihat jam, untuk menghitung estimasi perjalanan. Pendakian dimulai pukul 11.15 WIB.

Perjalanan pun dimulai dengan melelahkan. Perjalanan tiga jam yang ditempuh sepertinya sudah sangat menguras energi. Baru tanjakan awal saja kami sudah langsung kelelahan. Hampir kami pulang semenjak 10 menit berjalan. Akhirnya, di tanjakan curam yang pertama, kami berhenti di tengah-tengah. Baru ingat kami belum mengisi energi sama sekali, kebetulan lambung teman saya sudah bergetar dengan hebat. Akhirnyaaa, bekal yang kami bawa dibuka juga, meskipun ternyata makannya tidak terlalu banyak, karena tidak terlalu bernafsu mungkin karena kelelahan menanjak (baru juga 10 menit). Sialnya, pas lagi makan, sendok saya terjatuh, haduhh. Tapi yasudahlah, dilap saja make kassa, gembel aja ga mati kan ya.

Selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan, perjalanan pun semakin curam. Definisi manis di awal benar-benar terjadi selama perjalanan. Awalnya seperti akan melakukan perjalanan landai yang tidak terlalu melelahkan. Hmm, nyatanya, tidak sama sekali.

Teman saya yang mendaki dengan semangat sebelum sadar punya darah rendah
Darah rendah yang dimiliki teman saya membuat dia tidak bisa bertahan lama, akhirnya kami pun seperti berhenti setiap kali menaiki tanjakan curam. Hingga akhirnya kembali ditemukan daerah yang agak landai, dan ada saung serta tempat bersantai. Jadi kaya ayunan-ayunan gitu.

"Kayaknya gua mau punya ginian deh nanti di rumah" ide merepotkan yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya
Selepas beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan, oh iyaa, tentunya ga lupa dong untuk foto wajib setiap melakukan perjalanan. Ini biasanya dilakukan oleh anak-anak hits, biar jadi hits juga.

Iyak, foto kaki, wajib dilakukan

Perjalanan pun kembali dilanjutkan, sempat bingung harus lewat mana, karena ada batu besar yang ada tangganya sih, tapi karena ragu, masa iya lewat situ karena jalannya kecil, jadi kami berhenti dulu. Temen saya yang keliyengan pun akhirnya duduk dulu sembari saya cek rute, dan ternyata, rutenya benar. Sepertinya sudah lima menit saya mengecek rute, jadi kepikiran, temen saya yang lagi haid nanti pas saya balik lagi beneran temen saya ga ya, kebanyakan baca cerita horor jadi mikir aneh. Untungnya, dia melakukan sesuatu yang membuat saya yakin bahwa itu beneran dia.

Tiduran sambil selfi
Iyaaaa, ini adalah sesuatu yang pasti dilakukan manusia pada umumnya, apalagi perempuan. Jadi saya dapat melanjutkan perjalanan dengan tenang karena ternyata saya masih berjalan bersama manusia. Pendakian pun kembali dilanjutkan, ada pendakian yang curam, ada juga yang tidak curam. Layaknya hidup, naik turunlah masalahnya.

tidak curam
lumayan curam
Sayangnya, karena terlalu sibuk memikirkan apakah sampai atau tidak, kami jadi tidak foto-foto perjalanannya. Sudah terlalu lelah untuk melakukan pemotretan, toh minum saja seperti tidak berasa, tidak menghilangkan haus sama sekali. Mencapai batu lembu saja belum sama sekali, air minum pun sudah habis satu botol, untung saja beli dua. Saking keliyengannya, jalan yang tidak terlalu curam pun membuat agak oleng.


Akhirnyaaaaa, kami pun tiba tiba di destinasi utama, yakni Batu Lembu. Perjalanan kami mendapatkan rekor baru dari orang-orang yang buat catatan perjalanannya, hahahaha. Kami tiba pukul 14.15 sekitar tiga jam perjalanan dengan pemberhentian yang lebih banyak dari Transjakarta. Pas sampe, rasa lelahnya kayak hilang seketika. Wahh, ga nyangka banget gitu loh bakal sampe, diliat dari track recordnya.

TEMEN
"Gua tadi udah mikir mau berhenti aja tau"

Untungnya dia engga bilang itu dari awal, kalau bilang kan bisa aja berhenti. Dari atas gunung lembu kita bisa liat Waduk Jatiluhur dari atas, ihihiw. Kayaknya daripada digambarin mending kasih liat aja fotonya ya.

Kang villa kang?

Dampak foto di pinggir, jadi lemes
Sudah jelas beberapa foto yang bagus di atas bukan hasil foto saya, hahaha. Saya ga biasa foto-foto. Ada anak sekolahan yang rombongan gitu, jadi mereka rame-rame disana. Ga kebayang dong naiknya kaya apa, bener deh, rame banget. Sampai akhirnya mereka mau pulang, Alhamdulillah jadi sepi, tapi pas foto kayaknya kendala ama posisinya, hahaha. Sempet ngelirik-lirik tapi kok belum minta-minta, padahal temen saya udah berharap diminta tolong fotoin.

SAYA
"Fotoin gih tawarin"

TEMEN
"Entar, gua liatin dulu"

SAYA
"Tumben kaga langsung nawarin dia" (dalem hati)

Alarm reminder ashar yang muncul di handphone membuat saya kembali sadar akan melewatkan Sholat Zuhur hahahaa. Saya pun mencoba untuk mengecek apakah ada tempat sholat. Namun, baru berjalan sebentar ke daerah warung, ada teriakan yang agak mengganggu saya.

ANAK SEKOLAHAN
"IHHH, TETEHNYA BAIK, NAWARIN FOTOIN"

Suaranya pun kabarnya terdengar sampai Waduk Jatiluhur dan mengakibatkan gangguan listrik di beberapa daerah. Saya mikir, lahhh dia ditinggal mau minta foto. 


Ternyata memang tidak ada tempat untuk sholat, tapi ada yang jual kopi. Kapal api harganya lima ribu, lumayanlah dengan biaya perjalanan bawa kopi ke atas gunung yang terbayang melelahkannya. Jadi kalau mau ngecamp disini juga bisa, biayanya 15.000, lebih mahal 5.000. Masih beberapa langkah lagi ke atas untuk ngecamp di puncak Gunung Lembu.

Setelah menikmati angin Gunung Lembu yang bisa bikin masuk angin, kenceng banget bener deh. Kami pun memutuskan untuk pulang pukul 16.30 biar ga kemaleman. Perjalanan turun lebih bikin saya kesel, karena kaki saya sampe gemeter hahahaha. Parah banget. Sering jatoh juga karena sepatu yang saya pake lumayan licin dan ya berkali-kali bemper belakang bertemu dengan tanah. Untungnya jatohnya ya jatoh yang lucu, jadi masih bisa menikmati, kalau udah kenapa-napa kan ribet. Pas turun juga ketemu pendaki yang bawa speaker, hahaha seru banget ga kepikiran make speaker, karaokean sambil naik.

Saatnya turunnn
Saya yang kuat naik, ternyata lemah saat turun, kebalikan sama temen saya yang kuat pas turun dan lemah pas naik. Bahkan, talenta menarinya dikeluarkan saat turun dari pendakian.



Perjalanan turun pun memakan waktu sekitar satu jam, waktu yang normal ditempuh oleh orang-orang. Selepas turun tentunya langsung ke toilet untuk cuci muka dan ganti baju, hahaha lepek banget sumpah, padahal pas naik ga selepek itu. Sampe bagian kakinya juga kotor, padahal saya make sepatu dan kaos kaki. 

yah ga keliatan kotornya
Kami pun berangkat pulang pukul 17.40, dengan lampu dekat yang mati dan harus menyalakan lampu tembak yang hampir mati juga, perjalanan berasa horor karena takut ada lubang yang tidak terlihat. Mana pinggirnya ada yang jurang. Hingga akhirnya teringat bekal yang belum habis dan makan bekal yang tadi di daerah Purwakarta Kota. 

Alhamdulillah jadi irit, tapi mienya basi hahaha
Jadi dapet ilham juga bahwa, mie kalau seharian bisa basi hahaha, lebih baik mie gorengnya juga digoreng bareng telor, karena yang berminyak kan sifatnya lebih awet. Makanya wajah kita kalo ada minyak jadi awet, awet jeleknya. Perjalanan pulang memakan waktu lebih lama sampai sekitar pukul 23.00. Bisa dibilang perjalanan pulang memakan waktu lima jam lebih, hahaha. Soalnya lewat Purwakarta Kota, karena belum isi bensin dan sekalian liat lampion di Purwakarta. Tapi ternyata macet di pasar deket flyover yang deket stasiun Cikampek kalo ga salah. Bahkan, macetnya sampai Bekasi, Masya Allah deh. 

--
1. Secara biaya, penulis menghabiskan biaya 45.000 untuk akomodasi perjalanan
2. Hingga tulisan ini dibuat badan penulis masih sakit akibat dari perjalanan yang dilakukan


Sunday, 31 March 2019

Jangan Bingung Kasih Hadiah Buat Wisuda, Ini Dia 5 Hadiah Wisuda Anti Mainstream Yang Unik dan Murah


"Menghargai perjuangan seseorang itu penting, karena kita tidak tahu apa yang dia lalui untuk sampai di garis akhir"
Bagi kebanyakan orang, wisuda merupakan sebuah proses pembuktian diri kita kepada diri sendiri dan orang lain, baik kepada orang tua, ataupun mantan yang pernah meninggalkan kita. Sehingga, wisuda yang hanya sekali dilaksanakan S1 menjadi perayaan yang disambut meriah oleh orang-orang di sekitar kita. Menjadi seorang sarjana merupakan sebuah pencapaian yang berharga bagi setiap orang. Jalan yang berliku-liku, terkadang jalan buntu, tak membuat seseorang pantang menyerah untuk mengejar gelar sarjana dan menjadikan itu salah satu pencapaian hidup mereka, yang bahkan beberapa orang tidak meneruskan pekerjaannya di bidang tersebut, namun tetap menjadikan itu sebagai bukti bahwa mereka orang yang bertanggung jawab, menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.



Perayaan seperti ini tentunya memberikan kesempatan orang lain untuk mengapresiasi dengan berbagai macam hadiah saat wisuda. Namun, seringnya, perayaan itu membuat kita tidak bisa merayakan kesenangan dengan diri sendiri. Apabila ada dua puluh orang teman yang wisudanya kita rayakan dengan memberikan hadiah misalkan bunga, boneka, atau alat-alat lainnya, perayaannya bukan hanya perayaan wisuda teman kita. Perayaan tersebut juga merayakan dan mengingatkan bahwa beberapa hari ke depan makanan hanya akan dipenuhi nasi kecap, nasi kerupuk, ataupun nasi blueband. Maka dari itu, sebenarnya ada gak sih hadiah wisuda yang murah, bisa untuk banyak orang, tapi tetap unik dan berkesan? Yuk kita simak lima hadiah wisuda yang layak untuk diberikan ke teman tercinta kita yang sedang berbahagia.

KOPI


Apa yang bisa mengalahkan nikmatnya kopi setelah momen yang membahagiakan dan melelahkan? Kopi sachet bisa menjadi hadiah yang bermanfaat buat teman-teman kita yang sedang merayakan wisudanya. Biasanya, wisuda dilaksanakan pagi ataupun siang, sehingga peluang mereka untuk sampai rumah adalah sore hari. Bayangkan, selepas wisuda, sambil menikmati senja, wisudawan menikmati kopi yang lain dari biasanya, bukan kopi hitam ataupun kopi susu, tapi latte cafe, bisa rasa original, green tea, ataupun taro. Tentunya, momen yang membahagiakan itu akan sangat menjadi sempurna dilengkapi dengan kopi di sore hari. Kalau kata abang-abang betawi, selama gue bisa ngopi, gue ga butuh apa-apa lagi. Abang-abang mana ya yang ngomong. 

MIE INSTAN

Kalau ditanya, makanan apa yang rasanya paling nikmat dan mudah dibuat? Sudah jelas mie instan jawabannya. Sibuk dengan persiapan wisuda tentunya bikin orang ga menyiapkan untuk membuat makanan saat pulang nanti. Daripada beli di luar yang makan biaya, atau malah rasanya ga cocok sama lidah, mending kita kasih mie instan biar para wisudawan bisa menikmati pasca wisudanya dengan tenang, dan tidak pusing harus makan apa. Bayangkan, mie kuah di sore hari, ditemani kopi latte green tea ataupun taro, begh, akan menjadi pasangan serasi, mengalahkan kamu dan dia yang hanya kamu saja menganggapnya serasi. Eitss, tapi inget, yang dikasih jangan mie mainstream seperti rasa-rasa yang sering kita coba tanpa ada kesegaran khusus. Ada rekomendasi mie Yum Yum ini, mengandung kesegaran seperti Tom Yam sehingga membuat kita lebih rileks dan segar setelah menjalani momen wisuda. 

MAYONAISE

Nahh, kok mayonaise? Kalau yang ini udah ga ada lawan. Pulang wisuda paling enak ngapain? Ya ngemil. Sambil duduk di teras rumah, membayangkan perjuangan kita untuk menjalani skripsi berjuang melawan revisian dosen pembimbing yang menyenangkan. Tapi, rasanya, mengenang perjuangan sambil ngemil perlu ada rasa-rasa yang bikin ngemilnya makin enak sehingga dapat membayangkan momen perjuangan dengan tenang dan santai. Tinggal cocol, bisa melengkapi cemilan sambil ngegadoin kertas skripsi dengan mayonaise yang lezat ini.

BUMBU NASI GORENG INSTAN

Kalau ini udah ga ada lawan deh, praktis banget buat temen kita yang wisuda kalau laper laper karena kebanyakan bengong setelah wisuda. Setelah menjalani fase pengangguran dan mencari kerja, tentunya wisudawan harus irit-irit biaya dalam mencari makan agar pengeluaran pengangguran tidak membengkak. Nah, teman-teman akan berguna kalau memberikan ini sebagai hadiah wisuda agar para wisudawan tidak perlu repot memikirkan makan apa dengan pengeluaran yang membengkak. Itung-itung, wisudawan juga bisa sambil belajar masak nasi goreng yang enak buat calon pasangannnya nanti. Uhuk.

PENYEDAP RASA

Terakhir, tapi bukan tidak penting, yaitu penyedap rasa. Penyedap rasa ini bisa menjadi alternatif apalagi untuk para wisudawan yang mulutnya asem. Daripada menghisap rokok yang jelas-jelas berpotensi menyebabkan kanker, atau gadoin permen yang bikin batuk. Mendingan, mencicipi penyedap rasa yang jelas jelas ada kandungan gizinya dan lezat. Sehingga, para wisudawan bisa terhindar dari kanker dan penyakit batuk pasca wisuda. Penyedap rasa ini juga bisa membantu para wisudawan belajar menggunakan ini untuk makanan yang murah demi menghemat pengeluaran pasca wisuda loh. Soalnya, di penyedap rasa biasanya ada resepnya buat sekalian belajar masak saat berkeluarga nanti. Selain itu, kalau kita beli banyak, ini bisa jadi slempang slempangan lohh, siapa tau gak setelah lulus direkrut jadi Duta Masako. Harapannya juga, semoga penyedap rasa ini bisa memberikan rasa terhadap wisudawan yang lulus namun perasaannya masih hambar, karena tidak lulus ujian untuk mendapatkan gebetannya.

Nah, masih jaman pusing mikirin hadiah wisuda? Ga jamannn. Selain bermanfaat buat para wisudawan, hadiah ini juga akan mengurangi dosa karena tidak mencerminkan perilaku yang mubazir yang tentunya perbuatan tersebut dilarang karena tidak baik. Bahwasanya, hadiah ini semuanya memiliki jangka waktu yang bisa bertahan lama, dan bisa dikonsumsi sehingga memiliki manfaat yang jelas terhadap wisudawan. Selain itu, kelima hadiah ini sangatlah murahh dan mudah didapatkan oleh kita semua lho gengsss. Jadi, jangan takut mengapresiasi, karena mengapresiasi tidak perlu mahal, sulit, ataupun barang yang jarang sekalipun. Bahkan, kehadiranmu saja sudah merupakan apresiasi sekaligus penyemangat kok, huehehehe kok jadi kesitu. Yuk, mari saling mengapresiasi !

Emang harganya berapaan kisarannya? Kalo mau beli banyak ribet dong harus ke agen? EITSSS, ada kok di online. Nih https://www.tokopedia.com/ajinomoto. Heheh, semakin mudah kan aksesnya.

Thursday, 7 February 2019

Membuat Paspor di Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Timur

Kali ini hanya sekedar ingin sharing pengalaman membuat paspor di Kanim Jakarta Timur. Oh iya, kantor imigrasi bisa disingkat Kanim ya. Meskipun gua tinggal di Bekasi, ada satu alasan yang membuat gua memilih untuk bikin paspor disini. Gua mau buat paspor tiga Januari, karena sekarang pendaftarannya lewat online, jadi gua ngecek situs kantor imigrasi Bekasi. Ternyata, setelah gua cek antriannya, udah penuh sampe tanggal 20 dong. Gila sih, karena tanggal 20an gua berangkatnya, ga mungkin gua bikin mepet-mepet. Setelah beberapa waktu mencari, akhirnya teringat ada Kantor Imigrasi deket Lapas Cipinang. Alhamdulillahnya, gua bisa daftar di hari yang gua inginkan.


TAHAP 1 : Pendaftaran Online

Langkah pertama yang harus kalian lakukan apabila ingin membuat paspor adalah dengan mendaftar secara online. Bisa aja sih kalian langsung datang, tapi kalian tetap akan disuruh daftar terlebih dahulu di komputer yang telah disediakan, dannnnn belum tentu dapat di hari yang sama, kalau dapatnya besok, juga belum tentu dapat di tempat yang kita datengin. Ada bapak-bapak yang daftar langsung, dia dapet jadwal kosong hari berikutnya. Ga bisa di hari yang sama. Sialnya, bapak itu dapat di kantor imigrasi Jakarta Utara. Soalnya, di Jakarta Timur udah penuh. Huhu, kasian si bapak.

Daftarnya dimana? Perlu ditekankan bahwa setiap daerah kemungkinan punya sistem online yang berbeda-beda. Awalnya, gua udah nanya-nanya gitu kan ke temen gua. Katanya, sekarang make aplikasi. Yowes, pada awalnya gua sotoy download aplikasi paspor online yang gua dapatkan dari https://antrian.imigrasi.go.id



Tapi, setelah gua download, terkejut abang terheran-heran, karena ga ada lokasi Kanim yang gua inginkan. Jangan Bekasi, lah kok Jakarta Timur aja ga ada. Lokasi terdekat ada di Depok, Soekarno Hatta, Karawang, dan Cilegon. Mampus kata gua, masa gua bikin paspor ke Karawang dan Cilegon. Gua mikir, mungkin emang di Kanim Bekasi ama Jaktim ga bisa buat paspor kali ya. Gua sangat berpikir bodoh waktu itu. Akhirnya, gua pun coba daftar di Depok dan Soetta. Alhamdulillahnya, dari tanggal 3 sampe 10 gua cobain ga bisa-bisa. Mungkin penuh kali ya. Berbekal rasa penasaran, gua coba daerah Karawang, penuh juga. Lokasi terakhir yang gua kenal adalah Cilegon, karena gua ga mungkin ke Bandung. JENG JENG JENG, Cilegon tanggal 3 bisa donggg. Gua udah siap-siap untuk ke Cilegon, tapi belum gua daftarin, gua masih penasaran dengan Kanim incaran gua.

Gua browsing dong Kanim Bekasi, dan ternyata bisa bikin paspor disitu, kampret. Dari situ gua tahu bahwa tiap daerah punya caranya masing-masing dalam prosedur pembuatan paspor. Gua ga ngerti kenapa ada beberapa daerah yang sama, mungkin geng-gengan, dan Bekasi ga diajak karena planet. Selanjutnya, gua coba daftar melalui website https://bekasi.imigrasi.go.id/, ada konfirmasi SMS gitu, LAMA BANGET SUMPAH NYAMPENYA. Gua kesel, gua tungguin, gua liat taunya hape gua masih mode pesawat. OK MAAP. Setelah berhasil daftar sebagai member, gua coba liat tanggal yang kosong. Biadab, kosongnya tanggal 20, yakali gua berangkat tanggal 22 daftar paspornya tanggal 20. Disitu gua pesimis, mungkin memang sudah takdir gua ke Cilegon, ya gpplah.

Gua udah mikir, apa yang harus gua lakukan di Cilegon, perlu ngajak orang ga, apa gua sekalian jadi volunteer Tsunami Selat Sunda. Sembari menyiapkan sabun muka untuk menghadapi debu Cilegon yang lebih parah dari Bekasi, gua memutuskan untuk browsing lagi. Kali ini gua penasaran sama Jakarta Timur, dengan harapan, ya ada dong. Untungnya, gua ga kapok untuk berharap meski kamu yang kuharapkan tidak tercapai, uhuk. Setelah gua buka websitenya di jakartatimur.imigrasi.go.id, ternyata, ada aplikasinya juga. Tapi beda aplikasi, bingung gua. Imigrasi Jakarta Timur ama Soetta lagi berantem kali ya jadi beda geng. Aplikasinya yang logonya warna merah dong ternyata, cuma tampilannya sama, terus di websitenya ada kata-kata LayananBeta


Meskipun menemukan aplikasi pada akhirnya, gua sempat meragukan, kok masih beta, ini belum official apa gimana. Cuma gua tetep daftar, dan pas daftar bener dong ada Jakarta Timur. Alhamdulillah, jangan pernah berhenti berharap, tidak tahu harapan mana yang akan terwujud. Apakah kamu menjadi salah satu harapan yang akan terwujud? Entahlah. Gua lanjutkan proses pendaftaran, dan eng ing eng, tanggal tiga kosong, ALHAMDULILLAH, gua ga jadi ke Cilegon. Jadinya ga perlu beli sabun muka baru karena takut abis buat perjalanan ke Cilegon. Oh iya, fyi, ke Cilegon kalau naik motor tiap dua jam perlu nyuci muka. Gua pun dapat barcode yang tulisannya waktu antrian 13.00-14.00 karena gua milih jam siang.


Oh iya, jamnya ada pagi dan siang, terserah kalian mau milih yang mana. Setiap sesi juga kuotanya cuma 50 orang, jadi ga usah takut terlalu rame. Ehehehe jangan lupa diprint ya, soalnya yang screenshot tetep aja disuruh buka langsung di website dulu, ga boleh screenshotan. Ga tau bedanya apa.

Tahap 2 : Menyiapkan Berkas

Setelah gua berhasil mendaftar, langsung melihat berkas-berkas yang perlu dipersiapkan untuk membuat paspor. Untungnya, websitenya sangat informatif. Mulai dari biaya, prosedur, persyaratan, dibuat dalam file pdf yang mudah untuk diakses. Joss. Dokumen yang diperlukan untuk membuat paspor, yaitu :
  1. e-ktp atau ktp lama dengan bukti bahwa telah merekam e-ktp tapi belum jadi atau surat keterangan pindah ke luar negeri
  2. kartu keluarga
  3. akta kelahiran/akta perkawinan atau buku nikah/ijazah/surat baptis
  4. surat pewarganegaraan Indonesia bagi orang asing yang memperoleh kewarganegaraan Indonesia melalui pewarganegaraan atau penyampaian pernyataan untuk memilih kewarganegaraan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
  5. surat penetapan ganti nama dari pejabat yang berwenang bagi yang telah mengganti nama
  6. paspor biasa lama bagi yang telah memiliki paspor biasa
Tentunya, sebagai orang yang baru buat paspor, persyaratan yang gua perlukan yaitu dari nomor satu sampai tiga. Untungnya, gua udah buat e-ktp dua minggu sebelumnya, karena emang mau buat paspor jadi gua udah baca-baca dan perlu e-ktp. Lalu, gua pun mulai mencari berkas yang diperlukan, kartu keluarga aman, ijazah aman. Akta pernikahan, ga ketemu, oh iya baru inget pernikahannya cuma mimpi. Tapi, gila, akta kelahiran gua yang asli mana ya. Cuma ketemu fotocopyannya aja. Gua panik dong, masa iya ga jadi bikin paspor gara-gara ga ada akta. Pada akhirnya, gua hubungin Customer Service Kanim Jaktim. Wuih, online kata gua. Gua hubungin dong


Yey bisa, akhirnya malam itu, gua bisa tidur dengan tenang karena besoknya membuat paspor, asik asik.

Tahap 3 : Check In

Gua pun sampe imigrasi jam dua belas lewat, yasudah sekalian sholat zuhur dulu. Oh iya, masjidnya bagus kok, enak juga buat tidur, nyaman ahaha. Setelah waktu tinggal sepuluh menit menjelang istirahat selesai, gua langsung ke ruang utama. Tempat nunggunya juga nyaman terus ada wifi yang kayaknya ga ada koneksi internetnya waktu itu, soalnya gua ga bisa ngapa-ngapain make wifi itu, ujung-ujungnya make data lagi. Di depan kantornya juga ada informasi bahwa jangan make celana pendek, sendal dan kaos, kalau make itu langsung disuruh pulang. Sebaiknya, gunakan sepatu, kemeja, dan celana panjang yang bagus ya, apalagi mau foto, hihi.

Akhirnya tiba, tahap berikutnya kita ke customer service buat isi biodata, jangan sampe salah ya. Gua udah antri di antrian paspor karena latah ngeliat orang ngantri, ternyata harus ke customer service dulu. Jadi, gua bingung sih kenapa isi biodata lagi padahal ada pendaftaran online. Yowes, setelah nunjukkin kartu antrian, gua pun dikasih formulir untuk daftar. Catatan, kalian kalau bisa bawa pulpen sendiri karena pulpennya pada engga nyata, siapin materai juga karena ada surat pernyataan. Gua sih udah bawa, hehe. Setelah isi data-data yang diperlukan, kita ga langsung ke antrian paspor, tapi perlu ke customer service buat check in. Nah, check in ini sesuai jamnya ya, kalau antrian 13.00-14.00 berarti check in bisanya jam segitu. Soalnya ada yang dateng 13.15, dia antrian 14.00-15.00, dikasih kertas buat isi data diri, tapi ga diizinin untuk check in. Jadinya, tetep ga bisa melanjutkan pendaftaran.

Setelah check in, dicontreng gitu make pulpen haha, perlu check out ga ya nantinya? Gua belum tau nih disini. Kalo check out kaya hotel aja ya. Nah, di antrian ini kita perlu antri di belakang garis kuning, biar tertib aja hahaha. Nanti disini berkas kita diambil, yang fotocopyannya, terus aslinya dicek, jadi kalian siapin map aja biar rapih dan ASLINYA JANGAN LUPA dibawa. Nanti berkas kita dikumpulin di map imigrasi, terus kita dikasih map itu dan disuruh ke lantai atas untuk foto, hihi, foto cuy.

Tahap Empat : Wawancara, Rekam Sidik Jari, dan Foto

Selanjutnya naik ke atas untuk wawancara, rekam sidik jari, dan foto. Kita udah dapat nomor antrian di map, jadi tinggal nunggu dipanggil aja di atas. Gua nunggu sekitar 10 menit kurang lebih dan akhirnya dipanggil juga. Ruang tunggunya luas banget dan adem loh, juga ada larangan jangan memotret. Disini juga kamar mandinya enak, nyaman buat tinggal, dan ramah anak, jadi kaya ada bermain perosotannnya gitu yang kaya di rumah sakit. Jadi pengen ngajak anak kesini.

Akhirnya, dipanggil kan, terus diwawancara tujuannya mau ngapain. Gua jawab aja mau jalan-jalan. Eh ditanya kemana, jawab ke Malaysia. Selesai, singkat banget kalo jawab mau jalan-jalan. Soalnya ada sebelah gua yang bilangnya kerja, ditanya surat keterangan kerja gitu. Setelah itu gua ditanya mau bikin paspor yang apa, e-paspor atau paspor biasa. Kalau e-paspor bisa lewat autogate dan bebas visa ke Jepang. Buat yang jarang ke luar negeri mah mending biasa aja, wkwk harganya beda jauh. Setelah itu berkasnya dicek, terus data di ktp diinput ke sistem. Eng ing eng, ternyata ada kendala sama e-ktp gua

"Mas, e-ktpnya belum online ya?" ujar mba mba imigrasi keheranan
"Wah, gatau deh, saya baru bikin sih dua minggu yang lalu" balas saya sekenanya

Dalam hati gua mah, mau jawab ga ada kuota mba jadi ga online, tapi ga enak, btw, MANA GUA TAU ADA ONLINE-ONLINEAN, gua kan cuma bikin doang. 

"Iya nih belum online kayaknya" tegas mba mbanya lagi
"Terus harus dionlinein dulu mba?" tanya saya dengan heran
"Saya coba manual ya, nanti mas ke kelurahan nih dionlinein" jawab mbanya

Mbanya baik kok, dan ternyata, pas manual, ada kendala. Data gua ga bisa keinput, padahal katanya biasanya bisa. Udah tiga kali mbanya kaya mastiin bahwa dia mencoba input tapi gagal terus, tapi gua tetep berdiam seakan-akan memberi paksaan tanpa berbicara ke mbanya bahwa gimanapun caranya harus jadi. Sebagai lelaki yang pantang menyerah, menunggu bertahun-tahun aja kuat, apalagi menunggu mba mbanya berhasil input. Duduk doang juga gua jabanin. Ternyata, kata mbanya, kolom pekerjaannya belum diisi, hehehe, dan pas diisi langsung bisa.

HEHEHEHE, saya cuma bisa ketawa aja waktu itu.

Setelah data diinput, gua udah nunggu lama tuh, kaya di kursi lain udah dua kali ganti orang, di kursi gua masih gua aja, kursinya adabanyak, sepuluh kali ya, jadi ga terlalu lama nunggu. Mungkin imigrasinya tahu nunggu kurang enak. Habis itu foto dong, mba mbanya ramah-ramah kok, ditanya mau kemana, terus dicatet, jurusan apa, dsb. Setelah itu foto, rekam semua sidik jari. Oh iya, kalau fotonya merasa kurang puas bisa ganti ganti, tapi kalau sidik jari ga bisa, kan jarimu ga ada bedanya. Setelah foto gua dikasih struk gitu buat pembayaran, tapi karena udah jam dua lewat, ga tau masih bisa bayar.

Tahap Lima : Pembayaran Paspor

Pembayaran paspor dilakukan di mobil pos indonesia yang ada di kantor imigrasi. Nah, pas banget, gua dateng pukul 14.05 ke mobil ini. Kata masnya, yah harusnya sih jam dua udah close pembayaran, tapi saya coba ya masih bisa ga. Alhamdulillah, ternyata emang ga bisa, masnya jujur. Setidaknya kamu telah berjuang, terima kasih mas. Lalu sama masnya disarankan untuk pergi ke bank bri unit imigrasi yang ada di luar Kanim. Hanya perlu jalan sekitar tiga menit, udah sampe sih, lumayan deket, ada di dalam gang gitu. Sampai sana, langsung mengambil nomor antrian, karena cuma satu teller jadinya pelayanan agak lama. Ditambah itu kan bank buat transaksi yang lain juga, jadinya gantian sama warga sekitar, tapi mba-mbanya cakep, serius. 

Setelah bayar, kita akan dikasih bukti pembayaran dari BRI, dan bukti yang dikasih sama petugas wawancara jangan ilang, karena itu dipake buat ngambil paspor nanti. Biaya pembuatan paspor biasa itu 355.000, dan e-paspor itu 655.000, kalau bayar di BRI ada biaya admin 5.000. Nah, setelah bayar kita simpen dua bukti dari BRI dan dari petugas wawancara, buat kita gunakan untuk proses pengambilan setelah tiga hari kerja. Waktu itu gua datang hari Kamis, jadi Jum'at, Senin, dan Selasa. Menghindari adanya kemungkinan Selasa belum jadi, gua putuskan untuk datang Rabu.

Setelah itu kembali ke parkiran dan, wah, bersiap pulang dengan perasaan tenang. Ada tulisan juga parkir ga bayar, cuma tetep aja eh ga enak, jadinya tetep bayar. Itung-itung biaya standar dua motor. Pas mau pulang, kepikiran, awannya lagi bagus banget hari ini, jadinya mau foto deh, ehehe makanya cuma ada satu foto aja, itu juga foto di luar karena awannya bagus. Meskipun, hasilnya ga bagus-bagus amat ya, hahaha. Untung juga hari itu gua ga jadi update awannya bagus, karena ternyata beberapa menit kemudian ada yang update sama di hari itu, kan gaenak.

Tahap Enam : Pengambilan Paspor

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, yey. Hari Rabu gua berangkat dan sampe sekitar jam satuan di Kanim Jakarta Timur. Tanya customer service ambil dimana dan disuruh langsung ke belakang aja. Pas sampe tempat pengambilan, wuidih sepi, langsung deh gua registrasi ngasih bukti pembayaran dan kertas dari petugas wawancara. Lima menit kemudian gua dipanggil. Lalu diliat KTPnya, terus nulis data yang ada di paspor ke daftar hadir pengambilan paspor, selesai deh. Cepet banget pengambilan paspornya. Oh iya, buat yang mau diambilin bisa kok, kalau anggota keluarga make KK, kalau ga ada make surat kuasa kaya tulisan yang di gambar ini.


Oh iya, temen gua kan gua kasitau ngambilnya sekitar lima menit. Ternyata nasibnya sial, dan ga menentu, karena dia kebagian bareng jamaah umroh, jadinya lumayan lama dan memutuskan untuk pulang karena banyak banget jamaahnya. Overall, pelayanan yang ada di Kanim Jakarta Timur bagi gua memuaskan sih, pelayanan sampe wawancara sebenernya bisa sejam, cuma gua kehambat salah antri dan pas input data e-ktp aja. Mungkin karena kuotanya cuma 50 per sesi kali ya. Kursi dan ruangannya juga nyaman untuk menunggu, jadi betah nunggu disana, ehehe. Cuma wifinya aja kali ya yang ga gua tau fungsinya apa sebenernya karena ga bisa gua pake. 

Waktu Check In sampai Wawancara : 60 Menit (termasuk salah antri dan input data yang bermasalah)
Waktu Pembayaran : 40 Menit (di Bank dengan satu teller)
Waktu Pengambilan : 5 Menit

Kurang lebih gua menghabiskan 105 menit untuk melakukan pembuatan paspor di Kanim Jaktim termasuk kesalahan yang cukup makan waktu juga. Kayaknya segitu aja cerita membuat paspor dari gua, semoga memberikan gambaran bagi kalian yang mau buat paspor. Bayyy

Thursday, 31 January 2019

Hari Terakhir

Tepatnya dua puluh tiga Desember, tantangan ini dijalankan, kurang lebih lima pekan waktu yang dihabiskan untuk sampai ke sini. Temanya sih 30 hari menulis, tapi pada akhirnya molor sampai sembilan hari, huh memalukan. Motto mengenai terlambat atau tidak sama sekali memang benar adanya. Saya senang, dapat menyelesaikan ini dengan terlambat, daripada sama sekali tidak menyelesaikannya. Yahh, kecewa sih iya, namun tidak menyesalinya secara berlebihan. Sebab, selalu ada hal yang berkesan di setiap jalannya untuk menyelesaikan tiga puluh tulisan dalam tiga puluh sembilan  hari. 

Lantas, sesuai tema hari terakhir yang saya buat, apa yang dirasakan setelah mengikuti tiga puluh hari menulis? 

Pertama, saya akui melakukan kegiatan baru secara konsisten dengan tidak ada imbalan, tidak ada hukuman, dan bahkan bukanlah kewajiban yang tertera dalam agama ataupun negara, sangat sangat sangatlah sulit. Meskipun, mencintaimu secara konsisten tanpa adanya balasan mudah dilakukan. Namun, untuk kegiatan menulis ini sangatlah sulit. Belajar membagi waktu dari segala kewajiban yang terus bermunculan, bahkan beberapa kesempatan dalam hal lain yang akhirnya menguras waktu hingga membuka blog saja pun tak sempat. 

Kedua, pada akhirnya, semakin jauh hari yang dilalui, semakin memberikan kesadaran bahwa, dalam hidup memang tidak selamanya bisa kita gapai sesuai apa yang kita mau. Bisa saja digantikan dengan yang lain, bisa saja waktunya yang tertunda, atau bisa saja sama sekali tidak mendapatkan apapun. Disini saya mulai belajar mengikhlaskan dirimu, dengan mendapat kesadaran bahwa keinginan menyelesaikan dalam tiga puluh hari tidak bisa terpenuhi. Hal itu membuat saya sadar, meskipun kamu yang kuinginkan, mungkin memang sudah waktunya sekarang untuk merelakan. Sebab, berbeda dengan tiga puluh hari menulis yang memang mesti kudu wajib untuk diselesaikan, tidak ada urgensi yang besar untuk mendapatkan kamu. Hanya sebuah hawa nafsu dan hasrat membabi buta, yang tentunya, kalau tidak mendapatkan pun, ternyata tidak apa-apa. Hingga akhirnya, nafsu pun membutakan logika. Padahal, saya pernah bilang ke kamu, kalau nafsumu dipertahankan, akan menutupi orang-orang baik, tentunya bukan saya, karena saya tidak baik, yang mungkin saja datang kepadamu dengan tulus, atau mungkin tingkatan yang lebih tinggi, bukan sekedar tulus, tapi karena Allah. Saya mengatakan hal itu, namun ternyata memang sulit diaplikasikan. Maaf sudah sok berbicara tanpa tau sebenarnya itu sangat sulit.

Ketiga, melalui tiga puluh hari menulis ini saya sadar, seperti di postingan sebelumnya, saya banyak menulis tentang kamu. Tidak banyak sih, namun kamu mendominasi dibanding yang lain dalam tulisan saya. Awalnya, jelas, saya tidak terima, masa iya benar begitu, saya cek lagi, cek lagi, dan ternyata, benar. Terima kasih telah membuat saya senang untuk menulis, meskipun hanya menceritakan tentang kamu. Oh ya, tidak perlu ada hujan lokal untuk tulisan ini, saya tahu perasaanmu sudah sirna kok. Eh, memangnya pernah ada? Kamu kan tidak pernah konsisten dalam berbicara. Aku sebenarnya tidak tahu apa yang kamu ucapkan itu benar. Kamu masih sulit ditebak bagiku. Btw, aku masih memikirkan, perlukah kita kembali mengenal seperti sebelumnya? Sedikit lagi kita sudah berpisah, dan tidak bertemu pun tidak masalah karena kita dipertemukan bukan berdasarkan keinginan, tapi kewajiban yang beberapa bulan lagi harapannya selesai.

Keempat, orang-orang ternyata sangat menarik ya. Aku menemukan teman seangkatanku yang mahir sekali dalam menulis. Sepertinya, kalau dia buat novel, aku akan menjadi pembeli pertamanya. Hehehe, bohong deng. Aku download bajakannya saja, semoga ada yang upload. Ternyata, temanku waktu di masa-masa terkadang menggunakan baju kerja berwarna abu-abu, mahir juga dalam menulis. Sekarang dia sedang tidak melanjutkan sih, tapi sudah belasan tulisan dia dapatkan. Oh iya, doakan ya, semoga kemampuan menulisnya membantu dia untuk melancarkan kebaikannya menjadi ketua di salah satu organisasi. 

Kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Impian saya dari smp terwujud, punya adsense di blog. Wkekeke

Sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya dalam waktu yang tidak ditentukan.

Oh iya, saya lelah melihat layar laptop dari pagi sampai malam, sebuah perilaku durhaka seorang anak terhadap orang tua.