Tuesday, 3 September 2019

Nanjak Dadakan ke Gunung Lembu

Sebagai orang yang gemar jalan-jalan, naik gunung merupakan hal yang jarang saya lakukan. Sekali sih pernah, naik gunung Papandayan. Sayangnya, naik papandayan tidak bisa dibilang pengalaman naik gunung yang curam dan menegangkan, soalnya Papandayan treknya lumayan landai dan ya enak buat pemula. Papandayan sebenarnya agak membingungkan, dia masih disebut gunung apa lebih layak disebut kafe. Lah gimana bukan kafe, banyak warung dan musholla setelah nanjak, lebih kaya kafe di atas gunung aja. 

Perjalanan ini disebut dadakan karena kami berangkat hari Minggu 01 September 2019, tapi keputusannya baru diputuskan hari itu juga, pada dini hari. Sekitar pukul 00.30 lebih tepatnya perjalanan ke Gunung Lembu ditetapkan. Berbekal pengetahuan seadanya, kami sangat meremehkan gunung ini hingga yakin bisa dengan bugar pergi dan kembali setelah melakukan perjalanan. Ketinggian yang hanya 780 mdpl membuat kami yakin, Gunung Lembu bisa ditaklukkan dengan menyenangkan.

Demi mengeluarkan biaya seirit mungkin, kami memutuskan untuk membawa bekal untuk di perjalanan, yang ternyata cukup hingga perjalanan pulang. Nasi, mie, telor tentunya menjadi makanan wajib yang setiap perjalanan dibawa layaknya orang berenang. Hanya saja, ada tambahan lauk tahu dan teri yang menjadi pelengkap dari menu penuh karbohidrat tersebut. Setelah menetapkan rencana di dini hari untuk berangkat jam 6, kami pun akhirnya berangkat pukul 07.30. Ya, namanya ngantuk ya, maklumin sajaaaa.

Estimasi perjalanan di google maps dari Bekasi hingga tiba di Gunung Lembu sekitar tiga jam tiga puluh menit perjalanan. Di perjalanan, kami memutuskan berhenti untuk membeli air mineral yang besar sebanyak dua botol. Entah kenapa saya merasa harus membeli dua botol meskipun perjalanan yang dibayangkan akan tidak terlalu berat. Ya, berjaga-jaga tidak salah kan. Setelah berhenti di sekitar Tanjungpura untuk menambah perbekalan, saya pun jadinya dibonceng. Belum sampai 10 menit teman saya membawa motor, entah kenapa, aura razianya sangat kuat, langsung ketemu dengan razia yang padahal daritadi adem ayem, kebetulan mungkin ya. 

Sayangnya, surat-surat kami lengkap, hingga diizinkan untuk melanjutkan perjalanan. Saat berangkat kami menghindari Purwakarta Kota karena sudah terbayangkan akan memakan waktu yang lama. Kami pun belok melalui Walahar, melintasi kawasan industri, melalui jalan Curug, hingga jalanan yang kiri ke arah Wanayasa dan kanan ke arah Ciganea. Sesampainya di Ciganea, ketemu razia lagi, kalau emang akrab sama razia susah, ketemu mulu. Awalnya polisi tidak mau memberhentikan, ehhh, pas sampai tempat razia temen saya malah tiba-tiba ngegas. Saya yakin polisi berpikiran kami mau kabur secepat mungkin, akhirnya polisi pun langsung bergegas ke tengah dan memberhentikan kami. Kami pun kembali diizinkan, sambil saya bertanya arah Gunung Lembu, dan katanya masih lurus nanti belok kanan, meskipun saya tidak tahu belok kanannya dimana.

Ternyata, menurut google maps beloknya masuk melalui Pasar Anyar Sukatani, kami sempat kelewat karena agak ragu. Saat masuk pasar sedikit kami tanya ke warga

SAYA
"Pak, gunung lembu ke arah mana?"

WARGA
"Bla bla bla tebih"

SAYA
"Tebih, kaditu?" (sambil menunjuk ke arah)

WARGA
"Bla bla bla bla tebih"

Lagi-lagi yang saya cuma bisa dengar tebihnya aja. Tebih itu artinya jauh dalam bahasa sunda.

SAYA
"Nuhunnya pak"

Percakapan yang tidak efektif pun berakhir begitu saja. Maaf ya pak, meskipun akta kelahiran tercatat di Garut, tapi saya cuma numpang lahir aja, biar kesannya kaya orang jauh gitu. Akhirnya kami terus melakukan perjalanan sesuai dengan arahan google maps, mantap google maps. Sekitar empat puluh lima menit dari Sukatani, akhirnya kami tiba di pos pendakian utama Gunung Lembu. Oh iya, jangan coba-coba pergi dengan motor seadanya, nanti bikin repot aja, periksan ban dan mesin jangan lupa yaa.

Akhirnya sekitar pukul 11.00 kami tiba di parkiran, langsung parkir, ya iyalah ngapain lagi di parkiran. Bayar parkir di muka sebesar lima ribu rupiah. Teman saya yang daritadi sepertinya menahan diri, langsung bertanya dimana toilet. Dia pun langsung melampiaskan keinginan yang sepertinya dipendam semenjak perjalanan dimulai. Untungnya dia bertanya sih, karena memang toilet hanya ada di bawah. Kalau engga, dia harus melampiaskannya di tempat terbuka, kan kasian yang liatkalau ada yang ga sengaja liat.

Sembari teman saya ke toilet, saya pun bergegas melakukan registrasi. Untuk pembayaran dipungut satu orang sebesar sepuluh ribu rupiah. Nanti akan dapet karcis sebagai tanda bukti pembayaran.  Saya juga ikut ke toilet untuk cuci muka, hmm, sayangnya karena tidak menggunakan masker dan membuka helm selama tiga jam, air yang dibasuhkan ke wajah saya seperti mengalir tanpa terasa sama sekali, air tidak mampu melunturkan debu, jadi debu yang melunturkan air. Sayangnya, sebelum naik, kami tidak ada sesi berdoa bersama terlebih dahulu. Sungguh perjalanan yang benar-benar tidak religius. Saat mulai mendaki, saya melihat jam, untuk menghitung estimasi perjalanan. Pendakian dimulai pukul 11.15 WIB.

Perjalanan pun dimulai dengan melelahkan. Perjalanan tiga jam yang ditempuh sepertinya sudah sangat menguras energi. Baru tanjakan awal saja kami sudah langsung kelelahan. Hampir kami pulang semenjak 10 menit berjalan. Akhirnya, di tanjakan curam yang pertama, kami berhenti di tengah-tengah. Baru ingat kami belum mengisi energi sama sekali, kebetulan lambung teman saya sudah bergetar dengan hebat. Akhirnyaaa, bekal yang kami bawa dibuka juga, meskipun ternyata makannya tidak terlalu banyak, karena tidak terlalu bernafsu mungkin karena kelelahan menanjak (baru juga 10 menit). Sialnya, pas lagi makan, sendok saya terjatuh, haduhh. Tapi yasudahlah, dilap saja make kassa, gembel aja ga mati kan ya.

Selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan, perjalanan pun semakin curam. Definisi manis di awal benar-benar terjadi selama perjalanan. Awalnya seperti akan melakukan perjalanan landai yang tidak terlalu melelahkan. Hmm, nyatanya, tidak sama sekali.

Teman saya yang mendaki dengan semangat sebelum sadar punya darah rendah
Darah rendah yang dimiliki teman saya membuat dia tidak bisa bertahan lama, akhirnya kami pun seperti berhenti setiap kali menaiki tanjakan curam. Hingga akhirnya kembali ditemukan daerah yang agak landai, dan ada saung serta tempat bersantai. Jadi kaya ayunan-ayunan gitu.

"Kayaknya gua mau punya ginian deh nanti di rumah" ide merepotkan yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya
Selepas beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan, oh iyaa, tentunya ga lupa dong untuk foto wajib setiap melakukan perjalanan. Ini biasanya dilakukan oleh anak-anak hits, biar jadi hits juga.

Iyak, foto kaki, wajib dilakukan

Perjalanan pun kembali dilanjutkan, sempat bingung harus lewat mana, karena ada batu besar yang ada tangganya sih, tapi karena ragu, masa iya lewat situ karena jalannya kecil, jadi kami berhenti dulu. Temen saya yang keliyengan pun akhirnya duduk dulu sembari saya cek rute, dan ternyata, rutenya benar. Sepertinya sudah lima menit saya mengecek rute, jadi kepikiran, temen saya yang lagi haid nanti pas saya balik lagi beneran temen saya ga ya, kebanyakan baca cerita horor jadi mikir aneh. Untungnya, dia melakukan sesuatu yang membuat saya yakin bahwa itu beneran dia.

Tiduran sambil selfi
Iyaaaa, ini adalah sesuatu yang pasti dilakukan manusia pada umumnya, apalagi perempuan. Jadi saya dapat melanjutkan perjalanan dengan tenang karena ternyata saya masih berjalan bersama manusia. Pendakian pun kembali dilanjutkan, ada pendakian yang curam, ada juga yang tidak curam. Layaknya hidup, naik turunlah masalahnya.

tidak curam
lumayan curam
Sayangnya, karena terlalu sibuk memikirkan apakah sampai atau tidak, kami jadi tidak foto-foto perjalanannya. Sudah terlalu lelah untuk melakukan pemotretan, toh minum saja seperti tidak berasa, tidak menghilangkan haus sama sekali. Mencapai batu lembu saja belum sama sekali, air minum pun sudah habis satu botol, untung saja beli dua. Saking keliyengannya, jalan yang tidak terlalu curam pun membuat agak oleng.


Akhirnyaaaaa, kami pun tiba tiba di destinasi utama, yakni Batu Lembu. Perjalanan kami mendapatkan rekor baru dari orang-orang yang buat catatan perjalanannya, hahahaha. Kami tiba pukul 14.15 sekitar tiga jam perjalanan dengan pemberhentian yang lebih banyak dari Transjakarta. Pas sampe, rasa lelahnya kayak hilang seketika. Wahh, ga nyangka banget gitu loh bakal sampe, diliat dari track recordnya.

TEMEN
"Gua tadi udah mikir mau berhenti aja tau"

Untungnya dia engga bilang itu dari awal, kalau bilang kan bisa aja berhenti. Dari atas gunung lembu kita bisa liat Waduk Jatiluhur dari atas, ihihiw. Kayaknya daripada digambarin mending kasih liat aja fotonya ya.

Kang villa kang?

Dampak foto di pinggir, jadi lemes
Sudah jelas beberapa foto yang bagus di atas bukan hasil foto saya, hahaha. Saya ga biasa foto-foto. Ada anak sekolahan yang rombongan gitu, jadi mereka rame-rame disana. Ga kebayang dong naiknya kaya apa, bener deh, rame banget. Sampai akhirnya mereka mau pulang, Alhamdulillah jadi sepi, tapi pas foto kayaknya kendala ama posisinya, hahaha. Sempet ngelirik-lirik tapi kok belum minta-minta, padahal temen saya udah berharap diminta tolong fotoin.

SAYA
"Fotoin gih tawarin"

TEMEN
"Entar, gua liatin dulu"

SAYA
"Tumben kaga langsung nawarin dia" (dalem hati)

Alarm reminder ashar yang muncul di handphone membuat saya kembali sadar akan melewatkan Sholat Zuhur hahahaa. Saya pun mencoba untuk mengecek apakah ada tempat sholat. Namun, baru berjalan sebentar ke daerah warung, ada teriakan yang agak mengganggu saya.

ANAK SEKOLAHAN
"IHHH, TETEHNYA BAIK, NAWARIN FOTOIN"

Suaranya pun kabarnya terdengar sampai Waduk Jatiluhur dan mengakibatkan gangguan listrik di beberapa daerah. Saya mikir, lahhh dia ditinggal mau minta foto. 


Ternyata memang tidak ada tempat untuk sholat, tapi ada yang jual kopi. Kapal api harganya lima ribu, lumayanlah dengan biaya perjalanan bawa kopi ke atas gunung yang terbayang melelahkannya. Jadi kalau mau ngecamp disini juga bisa, biayanya 15.000, lebih mahal 5.000. Masih beberapa langkah lagi ke atas untuk ngecamp di puncak Gunung Lembu.

Setelah menikmati angin Gunung Lembu yang bisa bikin masuk angin, kenceng banget bener deh. Kami pun memutuskan untuk pulang pukul 16.30 biar ga kemaleman. Perjalanan turun lebih bikin saya kesel, karena kaki saya sampe gemeter hahahaha. Parah banget. Sering jatoh juga karena sepatu yang saya pake lumayan licin dan ya berkali-kali bemper belakang bertemu dengan tanah. Untungnya jatohnya ya jatoh yang lucu, jadi masih bisa menikmati, kalau udah kenapa-napa kan ribet. Pas turun juga ketemu pendaki yang bawa speaker, hahaha seru banget ga kepikiran make speaker, karaokean sambil naik.

Saatnya turunnn
Saya yang kuat naik, ternyata lemah saat turun, kebalikan sama temen saya yang kuat pas turun dan lemah pas naik. Bahkan, talenta menarinya dikeluarkan saat turun dari pendakian.



Perjalanan turun pun memakan waktu sekitar satu jam, waktu yang normal ditempuh oleh orang-orang. Selepas turun tentunya langsung ke toilet untuk cuci muka dan ganti baju, hahaha lepek banget sumpah, padahal pas naik ga selepek itu. Sampe bagian kakinya juga kotor, padahal saya make sepatu dan kaos kaki. 

yah ga keliatan kotornya
Kami pun berangkat pulang pukul 17.40, dengan lampu dekat yang mati dan harus menyalakan lampu tembak yang hampir mati juga, perjalanan berasa horor karena takut ada lubang yang tidak terlihat. Mana pinggirnya ada yang jurang. Hingga akhirnya teringat bekal yang belum habis dan makan bekal yang tadi di daerah Purwakarta Kota. 

Alhamdulillah jadi irit, tapi mienya basi hahaha
Jadi dapet ilham juga bahwa, mie kalau seharian bisa basi hahaha, lebih baik mie gorengnya juga digoreng bareng telor, karena yang berminyak kan sifatnya lebih awet. Makanya wajah kita kalo ada minyak jadi awet, awet jeleknya. Perjalanan pulang memakan waktu lebih lama sampai sekitar pukul 23.00. Bisa dibilang perjalanan pulang memakan waktu lima jam lebih, hahaha. Soalnya lewat Purwakarta Kota, karena belum isi bensin dan sekalian liat lampion di Purwakarta. Tapi ternyata macet di pasar deket flyover yang deket stasiun Cikampek kalo ga salah. Bahkan, macetnya sampai Bekasi, Masya Allah deh. 

--
1. Secara biaya, penulis menghabiskan biaya 45.000 untuk akomodasi perjalanan
2. Hingga tulisan ini dibuat badan penulis masih sakit akibat dari perjalanan yang dilakukan


0 comments:

Post a Comment