Thursday, 14 July 2016

Cinta Itu Tidak Memaksa

Pada akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah sebuah pembelaan berupa, 'Cinta itu tidak memaksa', 'Aku sudah mengikhlaskan dirinya', 'Aku rela asalkan dia bahagia'.

Di awal aku merasakan perasaan yang aneh itu, kurasa bahwa setiap dunia seperti berpihak padaku. Setiap saat dunia seperti membuat diriku untuk senang, dengan memberikan suasana-suasana yang mendukung aku untuk sekedar membayangkannya. Iya, hanya sekedar membayangkannya. Beginilah nasib pria yang takut terhadap wanita yang disukainya, entah kenapa, rasa takut malah timbul terhadap yang disukai, mungkin karena kita selalu ingin merasa tampil sempurna, dimana kusadari sekarang itu merupakan pandangan yang tidak terlalu benar, karena sebenarnya dia perlu tahu kekurangan kita juga.

Lambat laun, aku merasa bahwa ada sesuatu yang harus dirubah. Kuberanikan diri untuk menyapamu, meski hanya sekedar balasan sapa dan sekedar obrolan ringan, sepertinya itu cukup berharga bagiku, sampai sekarang setiap obrolan, momen, dan bahkan setiap detiknya, tidak juga sih, kadang muncul tiba-tiba terlintas dalam benakku.

Iya, memang sepertinya dalam berkenalan denganmu, dan semakin mengenal dirimu sedikit demi sedikit, aku merasa, bahwa sepertinya aku memang bukan pilihanmu. Kulihat engkau mempunyai pilihan lain. Pada awalnya memang sedikit kecewa, namun semakin kesini sepertinya biasa saja, ya. Kuputuskan untuk menjauh waktu itu,

Saat menjauh, sifat menyebalkanku ternyata muncul, setelah kurenungi lagi, perbuatanku terhadapmu itu bisa dinilai sebagai perbuatan yang norak, untuk itu aku minta maaf atas perbuatanku padamu, sedalam-dalamnya.

Namun, beberapa minggu kemudian, beberapa perbuatan yang menyebalkan ini muncul lagi, seperti menjemput dan memaksamu secara halus, yang kutahu setelah melakukan perenungan, dalam kegiatan kita sepertinya kau tidak terlalu menyukainya, terlebih lagi satu hari sebelum acara berlangsung. Ah, ini membuatku bingung saat acara, apa yang mau dilakukan, jadi kuputuskan diam adalah pilihan terbaik, terbaik bagiku, cukup egois memang.

Satu semester berlalu dan kita pun bertemu lagi, tidak berdua tentunya, melainkan pertemuan kelompok. Perasaan canggung waktu itu masih ada, aku masih bingung apa yang harus dilakukan. Tiba hari ulang tahunmu, aku tidak tahu mau memberikan apa, sudah tidak ada komunikasi yang kulakukan denganmu, kuputuskan untuk memberi sesuatu yang tak sempat kuberikan tahun lalu, bekas memang, tapi masih layak digunakan, ditambahkan bumbu-bumbu norak di dalamnya, aku menyesal melakukan hal norak tersebut,

Setahun berlalu, tepatnya beberapa minggu yang lalu dari hari ini, sekitar 2-3 minggu, aku masih bingung apa yang harus dilakukan. Namun, kuputuskan untuk membuat beberapa perubahan, tidak bisa harus seperti ini, kucoba untuk menghilangkan canggung sedikit dan memberi hadiah yang seharusnya engkau terima, ah, berhasil, tidak sesulit itu sepertinya, meski seusai kejadian tersebut, rasa canggung kembali bertambah.

Sekarang tepatnya, sepertinya aku tahu apa yang harus kulakukan, meski tak tahu sebenarnya, anggap saja tahu. Rasa canggung itu tidak perlu ada. Aku sudah tidak berharap lagi padamu. Aku senang berteman denganmu. Aku senang mengenalmu. Kau memberikan banyak pelajaran berharga. Kau memberikanku alasan kenapa seseorang harus memperjuangkan cintanya. Kau juga sering traktir makanan.

Jadi, apakah perkataan cinta itu tidak memaksa, sebuah perkataan yang bodoh, atau perbuatan yang ikhlas? Semuanya tergantung sudut pandang kita masing-masing, Jika memang engkau menyadari bahwa memang bukan dia sepertinya pilihan hatimu, relakanlah, ikhlaskanlah. Namun, jika engkau belum berbuat apa-apa sudah menyerah, apa yang mau diikhlaskan?

3 comments:

  1. Keren gan kaya cerita temen ane :o

    ReplyDelete
  2. Keren gan kaya cerita temen ane :o

    ReplyDelete
  3. "Kau juga sering traktir makanan."

    SYALAANNNDDD WKWKWKWK

    ReplyDelete